5 Tanda Kamu Sudah Melek Keuangan

Sudahkah kamu melek keuangan?
Sudahkah kamu melek keuangan?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan inklusi keuangan nasional mencapai 76,19 persen. Sayangnya, OJK juga menyampaikan bahwa indeks literasi keuangan kita masih sekitar 38,03 persen. Wah, sudah bisa dibilang melek keuangan belum ya?

Tapi sebelum menjawabnya, kita samakan persepsi dulu. Apa sih melek keuangan itu? Orang yang tahu duit? Atau orang yang jago menghitung duit?

Pengertian Melek Keuangan

Menurut OJK, melek keuangan sama halnya dengan literasi keuangan. Hal ini tertuang dalam Peraturan OJK Nomor 76 /POJK.07/2016.

Lengkapnya, melek keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Tujuannya itu memang untuk meningkatnya kualitas pengambilan keputusan keuangan individu: seperti bagaimana supaya lebih untung, lebih bijaksana, atau lebih smart dalam mengelola uangnya.

Contoh sederhananya begini: jika kamu lebih suka tabungan dengan biaya admin yang kecil agar menghemat pengeluaran, nah itu bisa dibilang sudah melek keuangan. Kemudian jika kamu lebih suka transaksi dengan kartu kredit yang bunga cicilannya 0 persen, nah itu juga tanda kalau kamu melek keuangan, dan contoh-contoh lainnya.

Nah, kira-kira kamu sudah melek keuangan belum?

Sekadar informasi Pemerintah kita punya target di 2024 inklusi keuangan nasional mencapai 90 persen. Harapannya, dari jumlah itu paling tidak lebih dari setengahnya sudah melek keuangan.

Apa yang harus dilakukan? Kita simak yuk, hal-hal yang harus diperhatikan agar bisa melek keuangan.

1. Paham arus kas

Menurut retirehappy, salah satu tanda kamu sudah melek keuangan adalah paham mengenai arus kas. Kalau kamu paham berapa uang yang kamu hasilkan dan berapa banyak yang kamu habiskan setiap bulan, itu merupakan langkah awal untuk mencapai kebebasan finansial.

Pengelolaan keuangan yang baik merupakan pondasi dasar yang kuat untuk mencapai tujuan finansialmu. Jika kamu bisa mengatur arus kas dengan baik dan hidup sesuai kemampuanmu, maka kamu sedang berada di jalur yang tepat.

2. Tidak impulsif

Selain mengelola keuangan dengan baik, tidak impulsif merupakan tanda lain bahwa kamu adalah orang yang melek keuangan. Kamu terbiasa membelanjakan uangmu secara sadar, penuh pertimbangan, dan untuk sesuatu yang benar-benar kamu butuhkan. Dengan begitu semua pengeluaranmu akan tepat sasaran dan tidak terjadi pemborosan hanya karena nafsu belanja yang tak terkontrol.

3. Meminimalkan utang

Kamu yang melek keuangan pasti sudah paham dengan pengelolaan keuangan yang baik. Makanya, semua pengeluaranmu jadi terkontrol dengan baik, sehingga kamu bisa meminimalkan utang. Kamu hanya akan berutang untuk hal-hal yang sifatnya produktif saja, seperti modal usaha atau KPR.

4. Punya perencanaan keuangan yang jelas

Tanda lain bahwa kamu sudah melek keuangan adalah memiliki perencanaan keuangan yang jelas. Kamu tahu apa saja yang ingin kamu capai dan apa saja yang harus kamu lakukan agar tujuan tersebut dapat dicapai. Dengan membuat perencanaan keuangan jangka pendek dan jangka panjang secara jelas, kebebasan finansial jadi lebih mudah diwujudkan, lho.

5. Menabung dan Investasi

Percayalah, tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya raya. Semuanya butuh proses dan salah satunya adalah dengan menabung dan investasi. Orang yang melek keuangan pasti sadar bahwa untuk mencapai tujuan finansial diperlukan proses menabung dan investasi sejak dini.

Beberapa perencana keuangan punya imbauan beragam untuk porsi investasi. Sebab hal ini memang kembali pada kemampuan finansial masing-masing.

Tidak masalah hanya bisa menabung Rp500 ribu per bulan. Tidak masalah hanya bisa menyisihkan 10% penghasilan untuk investasi. Yang terpenting adalah #beranikomit.

Lalu, mengapa perlu investasi jika sudah menabung? Jawabannya karena keduanya beda tujuan.

Menabung umumnya untuk tujuan yang sifatnya lebih berjangka pendek. Misalnya untuk pendidikan, liburan, ambil S2, DP mobil, buka bisnis, ataupun membeli barang kebutuhan yang bernominal cukup besar.

Biasanya orang menggunakan program tabungan yang menggunakan sistem autodebet dan tidak bisa diambil sewaktu-waktu. Misalnya seperti Tahapan Berjangka di BCA.

Orang pilih menabung di Tahapan Berjangka di BCA karena memang setorannya murah dan fleksibel karena bisa ditambah sewaktu-waktu dan semampunya. Selain itu menggunakan sistem autodebet dan mudah diatur dari HP.

Klik info Tahapan Berjangka di Sini.

Namun untuk keperluan jangka panjang seperti biaya lanjutan pendidikan anak, biaya kesehatan di masa tua, anggaran pensiun agar tidak harus kerja keras sampai tua, dan semacamnya, kamu membutuhkan investasi.

Sebab menabung Rp1 juta per bulan selama 20 tahun, akan membuatmu memiliki Rp240 juta. Namun Rp240 juta di 20 tahun ke depan, nilainya akan berbeda dengan saat kamu mulai menabung.

Adanya inflasi membuatnya seperti itu. Kenaikan harga adalah hal yang tidak bisa dihindari. Maka dari itu, investasi adalah jawabannya.

Sebab dengan investasi, potensi keuntungan yang kamu dapatkan bisa lebih besar dari menabung. Dengan begitu, nilai investasimu di 20 tahun ke depan, akan lebih besar dan menyelamatkanmu.

Bagaimana, sudahkah kamu melek keuangan? Yuk mulai dari sekarang. Jadikan 2021 nanti sebagai momentum kebangkitan keuanganmu.

Investasikan uangmu. Cari yang gampang, murah, dan aman seperti di Welma, aplikasi investasi dari BCA.

Dengan Welma, kelola keuangan jadi lebih mudah dan aman.

Klik Info Welma di sini.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.