Andai Punya Gaji Rp8 Juta, Ini yang Bisa Kamu Lakukan

Apa yang bisa dilakukan dengan gaji Rp8 juta?
Apa yang bisa dilakukan dengan gaji Rp8 juta?

Baru-baru ini dunia maya dihebohkan postingan tentang keluhan seorang fresh graduate pencari kerja yang “hanya” ditawarkan gaji Rp8 juta. Menurut pendapatnya, dengan bekal gelar sarjana dari sebuah universitas ternama, nominal tersebut dikategorikan kecil. Sebenarnya, untuk kategori pencari kerja awal, apakah nominal tersebut benar termasuk kecil?

Jika mengambil tolok ukur UMP (Upah Minimum Provinsi) DKI Jakarta, untuk ukuran fresh graduate, angka itu relatif besar. Di Jakarta, UMP saat ini berada di angka Rp3,94 juta. Umumnya, gaji pokok ditetapkan berdasarkan UMP, sementara gaji yang dibawa pulang (take home pay) oleh karyawan sudah ditambahkan beberapa komponen tunjangan, seperti tunjangan transportasi, makan, kehadiran, atau mungkin tunjangan komunikasi.

Di satu sisi, Badan Pusat Statistik merilis riset (diperbarui Maret 2019) yang menyatakan bahwa gaji fresh graduate tertinggi berada di angka rata-rata Rp3.327.742 per bulan. Jadi, jika merujuk pada hal-hal tersebut, tawaran gaji Rp8 juta per bulan pada seorang pekerja yang diasumsikan belum memiliki pengalaman kerja bisa dikatakan cukup besar.

Akan tetapi, tentu masalah besar atau tidaknya gaji kemudian akan menjadi subyektif. Bisa jadi mereka yang menolak angka tersebut memiliki keahlian tambahan yang bisa menjadi “nilai jual” lebih. Besar kecilnya pendapatan seseorang juga bisa sangat relatif.

Pasalnya, lagi-lagi gaji dan pengeluaran akan berkaitan erat dengan gaya hidup orang yang bersangkutan. Jika ia berperilaku konsumtif seperti belanja berlebihan dan sering menggunakan uang tanpa kejelasan, tentu saja gaji Rp8 juta bisa terasa kurang. Lantas, sebenarnya bisa dapat apa sih jika kamu punya gaji Rp8 juta?

Supaya gaji tidak hilang tanpa jejak, kamu perlu mempelajari cara mengelola keuangan. Caranya sederhana; kamu bisa membagi-bagi penghasilanmu menjadi beberapa pos keuangan yang sedari awal harus dipisahkan dulu, dengan menggunakan amplop misalnya. Metode kuno, tapi efektif.

Umumnya ada tiga pos keuangan, yaitu kebutuhan dasar, investasi, dan hiburan. Mungkin ada juga pos keempat, kelima, dan seterusnya yang bisa kamu buat sendiri, misalnya pos khusus untuk membayar tagihan, dana darurat, kartu kredit, atau cicilan.

Kamu bisa menggunakan Metode 50-20-30 yang ditemukan oleh seorang profesor dari Harvard yang juga perencana keuangan terkemuka dari Amerika, Elizabeth Warren. Pembagian pos pengeluaran dengan metode ini menekankan pada 50 persen kebutuhan sehari-hari, 20 persen tabungan atau investasi, serta 30 persen keperluan hiburan.

Nah, buat kamu fresh graduate yang diasumsikan masih tinggal bersama orang tua dan belum punya tanggungan, sekarang adalah kesempatan terbaikmu buat mencicil persiapan masa depan, dana pensiun dan dana darurat contohnya. Jika Elizabeth Warren membagi pos alokasi bulanan 50-20-30, kamu bisa membuatnya menjadi 40 (kebutuhan): 20 (investasi/tabungan): 20 (dana hiburan/liburan/ gaya hidup): 10 (dana darurat):10 (utang).

Artinya, jika gaji kamu Rp8 juta, kamu bisa menyisihkan Rp3,2 juta untuk transportasi kerja, makan di kantor, dan asuransi; masing-masing Rp1,6 juta untuk investasi dan alokasi liburan atau aktivitas hiburanmu; serta masing-masing Rp800ribu untuk dana darurat dan keperluan utang (kartu kredit misalnya).

Untuk keperluan dana darurat misalnya, ada tips yang bisa kamu coba supaya uang tersebut tidak tersentuh jika tidak benar-benar dalam keadaan darurat. Caranya, buka rekening baru dan pisahkan tabungan dana darurat dari rekening payroll atau rekening biaya operasional.

Sekarang ini, buka rekening baru sudah bisa dilakukan tanpa harus ke cabang, lho. Misalnya untuk buka rekening baru di BCA, kamu cukup unduh aplikasi mobile banking BCA dan mengisi semua data serta verifikasi lewat aplikasi. Cek di sini untuk informasi lebih lengkapnya supaya kamu bisa menghemat waktu.

Kembali ke proposi alokasi gaji, angka-angka tersebut tentu bisa kembali disesuaikan dengan kebutuhanmu. Namun satu yang wajib diingat, untuk pengeluaran utang bulanan maksimal adalah 30 persen dari pemasukanmu. Artinya, kalau kamu mau mulai kredit motor atau mobil ya sah-sah saja yang penting cicilan bulanannya tidak lebih dari Rp2,4 juta per bulan. Kalaupun lebih, artinya kamu harus siap dengan konsekuensi menekan angka pengeluaran di pos lain.

Dari metode pembagian pos tersebut, yang terpenting adalah kedisiplinan kita untuk menjaga dan menggunakan uang bulanan sesuai dengan angka yang sudah ditentukan di awal. Bahkan, kalau kamu disiplin mengikuti pola tersebut, dalam jangka waktu 18 bulan (1,5 tahun) kamu bisa, lho, beli motor matic model terbaru tanpa kredit. Nggak percaya? Coba deh buka kalkulator.