Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Mengatur Bonus Tahunan

Kesalahan dalam mengatur bonus tahunan
Kesalahan dalam mengatur bonus tahunan

Pada bulan Maret dan April umumnya menjadi momen para pekerja kantoran menerima bonus kenaikan gaji dan juga bonus tahunan dari perusahaan. Namun sayangnya, ketika menerima “uang kaget” tahunan ini, tidak sedikit yang kalang kabut mengelolanya sehingga uang yang diterima dalam jumlah besar menguap begitu saja. Apakah kamu mengalami hal yang sama?

Mumpung momen menerima bonus belum terlalu jauh, tidak ada salahnya mulai merapikan keuanganmu. Salah mengelola keuangan sebenarnya bukan isu baru lagi bagi kebanyakan orang. Akibatnya, tidak jarang bonus dan gaji besar justru malah menjadi penyebab timbulnya utang baru dan tidak dapat digunakan untuk kebutuhan masa depan apalagi untuk investasi.

Stanley Christian, Independent Financial Planner, saat berbincang dengan Smart Money di bilangan Jakarta Selatan
Stanley Christian, Independent Financial Planner, saat berbincang dengan Smart Money di bilangan Jakarta Selatan

“Bener banget, terkadang banyak orang, apalagi generasi milenial masih belum bisa mengelola bonus tahunan yang seringkali bikin uang mereka hilang gitu aja,” ujar Stanley Christian, Independent Financial Planner dan Founder Mengelola Uang saat ditemui Smart Money di bilangan Jakarta Selatan.

Bersama Stanley, Smart Money berbincang mengenai kesalahan dan langkah yang sebaiknya diambil saat menerima bonus tahunan di setiap pertengahan tahun, serta membaca iklim investasi di Indonesia saat ini. Berikut rangkuman perbincangan kami.

Q: Bisa disebutkan nggak apa kesalahan mendasar dalam mengelola bonus tahunan?

A: Menurut saya, ada 3 hal mendasar yang menjadi kesalahan milenial saat menerima bonus tahunan, yakni mindset ingin cepat menghabiskan uang, tidak punya perencanaan, dan yang terakhir adalah tidak punya tujuan keuangan.

Nah, tiga hal ini yang menjadi biang keladi bonus tahunan yang diterima menguap begitu saja. Bahkan, yang sering bikin sedih adalah menguap tidak tersisa. Jangan sampai hal ini berulang terus dari tahun ke tahun.

Q: Tapi, boleh nggak dipakai untuk reward diri sendiri?

A: Setelah setahun bekerja keras, ngasih reward ke diri sendiri ya udah pasti boleh dong. Tapi sekali lagi, supaya nggak kebobolan, kita harus punya mindset, tujuan, dan perencanaan keuangan yang tepat. Supaya apa? Supaya kita bisa nentuin porsi yang pas buat menyenangkan diri sendiri.

Q: Jadi, apa yang harus dilakukan ketika fresh graduate dan first jobber saat baru pertama kali menerima bonus?

A: Yang pertama, sisihkan untuk keperluan reward buat diri sendiri dan kebutuhan sosial, seperti sedekah atau zakat. Kemudian setelah itu, sisihkan untuk konsumsi dengan porsi hingga 50% dan sisanya disisakan untuk investasi dan tabungan.

Q: Apakah ini juga berlaku buat milenial yang termasuk “generasi sandwich”?

A: Orang tua dan anak menjadi pertimbangan besar untuk generasi sandwich dalam mengatur keuangan, tidak terkecuali soal bonus. Nah, supaya bonus tetap terkendali, tentu kamu tetap harus memberi porsi untuk pengeluaran kebutuhan orang tua, anak, dan juga diri sendiri. Semua tetap harus diberi porsi.

Q: Bicara soal investasi, sekarang banyak justru yang pesimis dengan iklim investasi di Indonesia. Sebenarnya gimana sih keadaan kita?

A: Kenapa kita takut buat investasi? Masalahnya satu, mereka belum mendapat informasi yang literasi yang tepat. Milenial kan katanya generasi yang gadget banget, ya harusnya dengan segala kemudahan melalui gadget, kita juga bisa mencari informasi yang tepat soal investasi. Dari sini harusnya mereka mulai mencoba berbagai produk digital keuangan yang ada, mulai dari deposito digital hingga produk investasi yang lain.

Q: Kalau gambaran ekonomi sekarang di Indonesia? Seberapa optimis?

A: Untuk saat ini, pergerakan saham merupakan garis besar ekonomi Indonesia. Dari tahun ke tahun, pergerakan bursa saham di Indonesia menunjukkan tren yang selalu naik. Sebagai gambaran, bursa di Indonesia yang sedemikian besar masih dikuasai asing, 60%. Kan sayang ya. Nah, asing aja percaya sama Indonesia, masa kita sendiri nggak percaya sih?

Q: Pemerintah kan juga lagi gencar mengeluarkan obligasi ritel, bagaimana Anda melihat momen ini?

A: Tahun ini menjadi momen Menteri keuangan mengeluarkan surat berharga yang menjadi waktu yang pas buat masyarakat ikut mendukung dan andil. Selain itu, surat berharga juga menawarkan bunga menarik, di atas bunga deposito malah.

Q: Tapi, banyak juga yang masih takut uang mereka nggak balik kalau beli surat berharga negara.

A: Jangan takut. Beli SBR itu dijamin sama pemerintah. Keuntungan membeli SBR atau SBN itu ya karena dijamin pemerintah. Selain itu, jangka waktunya juga hanya 2 tahun dengan keuntungan yang menarik.

Perlu juga kamu tahu kalau dengan membeli SBR atau SBN lain, kamu ikut mendukung negara dalam pembangunan. Jadi, ini sebenarnya adalah perputaran siklus dari kita dan untuk kita.

Kesalahan dalam mengelola bisnis tahunan