Ini yang Bakal Terjadi Kalau Kamu Sering Utang Konsumtif

Ilustrasi
Ilustrasi

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan dan keinginan terus bertambah tanpa kita sadari. Apalagi saat sudah punya penghasilan. Selalu ada saja barang yang ingin dibeli.

Masing-masing pun punya cara berbeda untuk memenuhinya. Mulai dari mencari kerjaan tambahan, mengambil lembur, bahkan sampai menjual barang. Namun tidak sedikit juga yang merasa kerja keras saja tak cukup. Akhirnya mereka terpaksa berutang demi mendapatkan keinginannya tadi.

Memang sih berutang itu sebenarnya bukan hal yang salah. Apalagi kalau secara finansial kamu mampu melunasinya. Yang akan jadi masalah itu kalau kamu sebenarnya tidak mampu tapi memaksakan diri untuk berutang. Inilah yang namanya terjerat dalam utang konsumtif.

Lalu pertanyaannya sekarang, apakah utang konsumtif selalu buruk?

Sebelum menjawabnya, kita pahami dulu bahwa pada dasarnya memang ada dua jenis utang, yakni konsumtif dan produktif. Utang produktif merupakan utang yang digunakan untuk membeli sebuah aset yang bisa menghasilkan pemasukan. Biasanya orang berutang produktif untuk keperluan bisnis.

Sedangkan utang konsumtif adalah seperti yang digambarkan di atas tadi. Utang ini dipakai untuk pemenuhan kebutuhan pribadi tanpa ada hasil yang produktif.

Utang jenis ini biasanya dipakai untuk membeli aset yang akan mengalami depresiasi atau penyusutan nilai. Aset-aset tersebut meliputi handphone, mobil, motor, laptop, dan barang konsumtif lain.

Ambil contoh kamu punya kas bersih Rp80 juta per tahun. Lalu kamu mengambil mobil dan harus membayar Rp48 juta per tahun.

Dari sini bisa kita bedah kalau aset konsumsi orang itu bertambah, kas bersihnya berkurang, dan rasio utang bertambah. Untungnya, orang tersebut masih tetap bisa bernapas karena masih punya kas bersih Rp32 juta per tahun. Cukup? Tentu tidak.

Menurut Perencana Keuangan Budi Raharjo, rasio kredit atau utang seseorang tidak boleh melebihi 30 persen. Sementara dari kasus orang tadi, di mana kas bersih dari Rp80 juta jadi tinggal Rp32 juta, itu berarti sudah melebihi 50 persennya. Ini termasuk tidak sehat.

Sudah begitu, barang yang dibeli, yakni mobil, merupakan barang yang bakal terkena depresiasi. Nilai mobil akan menyusut sehingga ketika dijual nanti kamu akan merugi.

Lain ceritanya jika mobil tersebut kamu jadikan modal usaha. Dengan demikian, utang yang kamu lakukan bisa disebut sebagai utang produktif.

Bagaimana? Sudah dapat gambarannya, kan? Nah, sekarang, sebelum memutuskan untuk berutang, hitung dulu yuk apakah rasio kreditnya tidak lebih dari 30 persen. Jadi seandainya pendapatan kamu Rp10 juta, pastikan limit kreditmu tak lebih dari 3 juta ya. Kecuali ya utang yang kamu ambil bersifat produktif.

Nah, jika ingin memanfaatkan kredit untuk modal kerja atau bisnismu, pilihlah yang tidak memberatkan. Misalnya Kredit Modal Kerja di BCA. Selain bunganya disesuaikan, pengajuannya tidak berbelit kok. Klik tautan ini untuk info lengkap soal Kredit Modal Kerja di BCA.