Keuangan Berantakan Usai Libur Akhir Tahun? Ini Cara Perbaikinya

Mohammad B. Teguh saat berbincang dengan tim Smart Money.
Mohammad B. Teguh saat berbincang dengan tim Smart Money.

Masa liburan akhir tahun 2018 telah usai. Buat kamu yang baru selesai menghabiskan waktu libur, salah satu hal yang langsung menjadi perhatian utama ketika kembali bekerja adalah kondisi keuangan. Sebab, usai liburan tidak jarang kondisi keuangan jadi berantakan karena salah pengaturan sebelumnya yang menyebabkan pembengkakan utang.

Semoga kita tidak termasuk dalam kelompok ini ya. Lantas, bagaimana jika ternyata kita terlanjur salah perencanaan? Mohammad B. Teguh, independent financial consultant yang aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional - MUI dan Dewan Pengawas Syariah di beberapa lembaga keuangan membeberkan cara “mengobati” keuangan pascaliburan dan membuat perencanaan keuangan yang ideal untuk liburan selanjutnya dalam bincang bersama tim Smart-Money di bilangan Menteng, Jakarta Pusat pada Minggu (28/11/2018). Berikut petikan wawancaranya.

Apa yang harus dilakukan jika tagihan kartu kredit membengkak usai liburan?

Ketika kartu kredit membengkak berarti utang kita membengkak, penanganannya harus dibayar. Cara bayarnya bagaimana itu yang perlu kita pikirkan dan bikin strateginya.

Pertama, cara bayar kartu kredit itu lihat dari jatuh temponya. Setelah tagihan keluar transaksi, ada waktu kira-kira lebih kurang satu bulan (jatuh tempo). Selama satu bulan itu kira harus memikirkan supaya kita bisa bayar tagihan kartu kredit. Pengecekan bisa lewat telepon ke penyedia kartu kredit dan tanyakan tagihan per hari ini berapa.

Setelah mengetahui nominal dan tanggal jatuh tempo, kita harus dapatkan nominal tersebut. Caranya bagaimana, berhemat atau menambah income (penghasilan), tidak ada cara lain. Ketika sudah gajian, maka harus memprioritaskan bayar utang kartu kredit. Setelah bayar kartu kredit, bagaimana hidup selanjutnya, tinggal pilih, mau berhemat atau tambah income.

Karena begini, ketika kartu kredit tidak dibayar lunas, maka akan muncul bunga apalagi bayarnya cuma minimun payment, dan perhitungan bunga kartu kredit dibayar harian sejak kita belanja manakala tidak segera pelunasan tagihan.

Jika itu tidak dibayar bisa bayar di bulan depan, tapi kalau tidak bisa bayar lagi maka akan menggulung lagi dan dihitung bunganya terus-menerus, bunga majemuk, kumulatif, terus-menerus dan ini bahaya. Maka kalau memang sudah terlanjur terjebak (tagihan bengkak), best effort. Sekuat tenaga untuk melunasi. Kalau perlu lihat di rumah apa yang bisa dijual, jual saja. Sekarang menjual barang bekas relatif lebih mudah. Kalau memang sudah tidak dipakai bisa dijual. Tujuannya apa, supaya kita tidak terjerat oleh utang gara-gara kita liburan.

Liburan akhir tahun, manfaatkan pendapatan sendiri atau utang?

Saya sangat tidak menyarankan liburan dibiayai dari utang, karena utang juga ada biayanya, ada bunga dan segala macam. Sehingga kalau mau liburan lebih baik dari bujet yang ada sesuaikan dengan liburan Anda. Jangan memaksakan liburan dengan target tertentu padahal tidak punya uang.

Tapi kalau kita memaksakan apalagi harus ke luar negeri bujetnya biasanya lebih tinggi dan lebih mahal. Ketika bujet lebih mahal dan kita tidak mampu, memaksakan diri namanya. Cara paling baik untuk liburan adalah rencanakan, ada uangnya, berangkat.

Seperti apa mengatur anggaran liburan yang proporsional?

Supaya tidak tekor setelah liburan yang harus kita sadari adalah setelah pulang liburan kita hidup normal lagi. Artinya tetap ada tagihan listrik, tagihan handphone yang bisa saja semakin membengkak, anak sekolah tetap harus dibayar, tetap harus ke kantor pakai transportasi.

Makanya, ketika liburan jangan habiskan atau kuras tabungan. Misalnya, pulang liburan tanggal 1 atau 2 Januari, gajian baru tanggal 25 (Januari). Jadi masih ada waktu 25 hari lagi untuk hidup secara normal. Kalau tabungan habis saat liburan, bagaimana bisa hidup di bulan Januari itu.

Pastikan pemisahan bujet liburan dengan cashflow sehari-hari, misal untuk bayar sekolah, bayar asisten rumah tangga, kalau punya driver harus dibayar, kewajiban lingkungkan tetap bayar meski tidak tinggal di rumah selama beberapa hari (saat liburan), dan itu adalah kehidupan normal.

Artinya ada pengeluaran yang tidak bisa disubstitusi atau digantikan ketika kita tidak ada di rumah, ini yang harus dipikirkan. Bila bujet untuk liburan sebutlah Rp20 juta, maka nominal ini tidak boleh mengganggu pengeluaran rutin. Begitu Anda liburan dan mengambil dari bujet pengeluaran rutin, maka yang dikorbankan adalah pengeluaran rutin.

Ketika pengeluaran rutin dikorbankan maka risikonya adalah tidak bisa bayar sekolah anak, listrik bisa mati karena tidak dibayar, dan tagihan lain. Pembagian bujet harus dilakukan sebelum liburan karena kalau sudah liburan pikirannya hanya jalan-jalan.

Strategi terbaik untuk persiapan libur akhir tahun 2019?

Ketika kita ingin merencanakan liburan yang masih panjang, misalnya masih satu tahun lagi. Maka kita akan lebih mudah dalam membuat planning bujet.

Pertama, yang harus dilakukan adalah kira-kira akan menghabiskan uang berapa. Begitu kita tahu bujetnya, kita juga tahu besaran anggarannya. Maka kita punya tujuan, oke tahun depan saya akan liburan dengan nominal uang Rp25 juta. Tapi jangan lupa Rp25 juta itu nilai sekarang, kalau ada inflasi tambahkan sekitar 10 persen. Anggaplah menjadi Rp30 juta.

Tips membenahi keuangan pascaliburan

Targetnya dari sekarang sampai dengan Desember 2019 kita akan punya uang Rp30 juta yang akan dipakai buat liburan. Tinggal kita breakdown, Rp30 juta selama 12 bulan lagi maka setiap bulan saya harus nabung berapa.

Atau setiap bulan hanya mampu menabung Rp1 juta, berarti (total menabung setahun) hanya Rp12 juta. Di tengah-tengah tahun akan dapat bonus, saya harus jualan apa, sehingga bisa capai target. Nah, bikin planning untuk dapat income tambahan. Jadi, planning untuk anggaran liburan berapa saat dibutuhkan, setelah itu bikin planning bagaimana mencapainya.

Kalau untuk satu tahun menurut saya tidak perlu investasi macam-macam. Kecuali kalau mau liburan besar, keliling Eropa misalnya, masih 5 tahun lagi, kita baru bisa merancang investasi yang sedikit berisiko dengan harapan return tinggi.

Tapi kalau untuk liburan, beli motor, beli mobil, kita punya anggaran kemudian investasi di produk dengan risiko tinggi, misalkan reksa dana saham, atau langsung di saham, saya bilang tidak apa-apa tapi sadari risikonya. Ketika uangnya tidak sampai (nominal kecil), tidak jadi beli mobil, motor, dan tidak jadi liburan.

Kalau mau aman ingin liburan, mau tidak mau simpan di tabungan saja kalau (perencanaan keuangan) hanya satu tahun. Kalau 5 tahun (rencana liburan) baru bisa investasi di reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, atau kalau berani reksa dana saham, atau investasi di saham-saham tertentu.