Menentukan Dana Darurat yang Ideal

Ilustrasi
Ilustrasi

"Apa cita-cita kalian setelah lulus kuliah?" Pertanyaan ini kerap kali dilontarkan Perencana Keuangan Brian M Kuderna setiap kali dirinya mengisi acara seminar bertema literasi keuangan untuk mahasiswa.

Seperti disampaikan dalam akun media sosialnya, ia mengatakan kebanyakan dari mahasiswa menjawab ingin membeli rumah. Tak ada atau sedikit sekali yang menjawab punya cita-cita memiliki dana darurat. Padahal dana darurat juga menjadi hal penting yang sayangnya kerap dipandang sebelah mata oleh banyak orang.

Dalam bahasanya Kuderna, dana darurat ibarat jaring pengaman saat kamu mengalami kondisi darurat keuangan. Umumnya, dana ini akan sangat berguna saat seseorang jatuh sakit ataupun kehilangan pekerjaan.

Dana darurat bisa seketika berubah menjadi "dana segera" untuk pengeluaran yang datang secara tiba-tiba. Misalnya perbaikan rumah, perbaikan kendaraan, dan biaya serupa.

Sayangnya, banyak milenial yang justru tidak terpikir sama sekali pada pentingnya dana ini. Alasannya beragam. Ada yang karena gajinya kecil sehingga untuk memenuhi kebutuhan saja kurang. Malah ada juga yang percaya bahwa setiap ada keadaan darurat, pasti ada saja cara untuk mengatasinya. Jadi dalam bahasa sederhananya: "Lihat bagaimana nanti, deh."

Untungnya, tidak semua milenial tidak memikirkan pentingnya dana darurat. Beberapa dari mereka pun sudah mulai sadar perlunya menyisihkan penghasilan untuk pos ini. Hanya saja, tidak sedikit juga yang tidak tahu berapa jumlah ideal untuk pos dana darurat.

Nah, untuk kamu yang belum tahu, setidaknya milenial perlu memiliki dana darurat sebesar 30 persen dari target dana darurat yang seharusnya. Jumlah ideal ini pun bisa berubah seiring status kamu, ya.

Bagi kamu yang masih lajang, idealnya menyiapkan 6 kali dari penghasilan. Jadi apabila kamu memiliki pengeluaran sampai Rp5 juta per bulan, maka idealnya kamu memiliki Rp30 juta untuk dana darurat.

Dengan aturan sekurangnya 30 persen tadi, artinya kamu perlu menyiapkan Rp9 juta. Dana darurat ini bisa berupa dana tunai (cash money) atau bersifat likuid karena memang akan digunakan untuk kejadian tak terduga.

Sementara sisa dana darurat idealnya, bisa dipenuhi sambil berinvestasi. Kamu bisa pilih beberapa produk investasi seperti reksa dana, obligasi, ataupun saham. Klik tautan ini untuk informasi seputar investasi yang pas untuk kamu ya.