Strategi Lakukan Take Over KPR Agar Sama Seperti Ambil Kredit Baru (2)

seorang wanita menandatangani surat pengajuan KPR
seorang wanita menandatangani surat pengajuan KPR

Bila kamu tertarik melakukan take over KPR, syarat pengajuannya relatif sama dengan permohonan KPR baru. Bila dulu pengajuan take over KPR hanya untuk pinjaman yang sudah dicicil minimal setahun, kini hal itu sudah tidak berlaku lagi.

Asal nasabah bisa memenuhi kemampuan pembayaran cicilan, pengajuan take over KPR bisa diproses. Selain kemampuan mencicil, rekam jejak calon debitur di bank sebelumnya juga jadi pertimbangan. Kalau sempat tidak membayar angsuran, jelas rekam jejaknya tidak bagus.

Namun, bila dalam prosesnya, nasabah terkait memiliki niat baik untuk melakukan pelunasan, pihak bank masih bisa melakukan pertimbangan. Misal, nasabah menunggak akibat diberhentikan dari pekerjaannya.

Kemudian, ia lapor ke bank dan kini sudah bekerja kembali dengan pendapatan yang jelas. Pengajuan take over KPR semacam ini bisa diproses. Intinya, calon nasabah harus memenuhi 5C (character, capacity, capital, condition, dan collateral).

Tentu, ada biaya take over KPR. Di BCA, Felicia mengatakan, biaya take over yang dibebankan ke nasabah sama seperti KPR baru. Sebut saja, biaya provisi 1%, biaya administrasi, biaya penilaian (appraisal), biaya terkait penandatanganan akta atau perjanjian di notaris, dan biaya asuransi.

"Jadi, untuk take over KPR tak ada tambahan biaya khusus," kata Felicia. Untuk persyaratan dokumen pun sama dengan pengajuan KPR baru. Tambahannya hanya bukti serah terima agunan dari calon debitur ke bank asal dan surat keterangan outstanding pinjaman dari bank asal.

Lama bank memproses pengajuan take over juga sama dengan KPR baru. "Keputusan permohonan kredit diterima atau tidak kira-kira lima hari kerja sesudah dokumen lengkap," ujar Felicia.

Jadi, siap lakukan take over KPR?