Utang Konsumtif versus Utang Produktif, Mana yang Baik?

Utang konsumtif vs utang produktif
Utang konsumtif vs utang produktif

Tanpa disadari, kebutuhan dan keinginan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Untuk memenuhinya, banyak yang terpaksa bekerja lebih keras dari biasanya.

Mencari kerjaan tambahan, mengambil lembur, bahkan menjual barang, jadi hal-hal yang harus dilakukan. Tak sedikit yang lantas terpaksa berutang. Nah, pernahkah kamu mengalaminya?

Berutang sebenarnya bukan hal yang salah. Terlebih bila secara finansial kamu mampu melunasinya. Namun pertanyaannya, apakah berutang adalah hal yang harus kamu lakukan?

Anjuran untuk tidak berutang pasti sering kamu dengar. Namun di sisi lain, cerita bahwa utang bisa jadi solusi juga tidak jarang.

Nah, bicara soal utang, kamu harus tahu dulu bahwa secara umum utang terdiri dari dua jenis, yakni utang konsumtif dan utang produktif.

Utang konsumtif adalah utang yang dipakai untuk pemenuhan kebutuhan pribadi tanpa ada hasil yang produktif. Utang jenis ini biasanya dipakai untuk membeli aset yang akan mengalami depresiasi atau penyusutan nilai.

Lalu aset apa saja sih yang bisa mengalami depresiasi? Aset-aset tersebut biasanya handphone, mobil, motor, laptop, dan barang konsumtif lain. Jadi benar, utang konsumtif ini biasanya digunakan untuk memenuhi keinginan pribadi, bukan untuk kebutuhan utama.

Contoh utang konsumtif itu, misalnya seseorang mempunyai kas bersih Rp80 juta per tahun. Lalu ia punya utang beli mobil sebesar Rp20 juta per tahunnya.

Dari sini bisa kita bedah kalau aset konsumsi orang itu bertambah, kas bersihnya berkurang, dan rasio utang bertambah. Orang tersebut masih tetap bisa bernapas karena limitnya juga masih aman.

Lantas bagaimana dengan utang produktif? Berbeda dengan konsumtif, utang produktif merupakan utang yang digunakan untuk membeli sebuah aset yang bisa menghasilkan pemasukan.

Nah, kalau tadi utang konsumtif untuk keinginan, utang produktif digunakan untuk membeli kebutuhan. Selain itu, utang produktif juga sangat bisa memberi penghasilan tambahan untuk kamu.

Contohnya, kamu punya kas bersih Rp90 juta per tahun. Lalu kamu memutuskan membeli sebuah ruko dengan cicilan Rp30 juta per tahun. Ruko tersebut kamu sewakan dengan uang sewa Rp20 juta per tahunnya.

Dari situ dapat kita simpulkan total kas bersih kamu (setelah ditambah penghasilan dari sewa dan dikurangi dengan utang membeli ruko) adalah sebesar Rp80 juta. Untung, bukan?

Apalagi kalau kamu sudah menyelesaikan semua cicilan. Total kas bersih kamu bisa menjadi Rp110.000.000 per tahun!

Dengan kedua contoh ini, apa lantas kita tidak boleh punya utang konsumtif? Tentu saja boleh, asalkan kamu bisa membayarnya.