3 Hal Soal Korona yang Infonya Kurang Tersampaikan dengan Baik

Ilustrasi
Ilustrasi

Kabar soal adanya dua orang yang terkena virus korona sudah dikonfirmasi pemerintah. Hal ini pun disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo kepada masyarakat lewat media.

Kita diminta untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan dengan hidup sehat. Anjuran untuk mengenakan masker dan sering cuci tangan juga disampaikan.

Sebagai anak muda, tentunya sudah jadi tugas kita untuk menjadi “pejuang informasi” yang tepat. Pasalnya, tak bisa dipungkiri juga kalau dalam keadaan seperti ini, berita hoaks makin merajalela. Apalagi di grup WA.

Untuk itu, yuk bekali diri kita dengan informasi tepat dan berguna. Jangan asal share kabar-kabar yang cuma bikin gaduh tanpa solusi.

Lalu apa sih kira-kira informasi yang selama ini belum tersampaikan dengan baik?

Dari gambar di atas yang diambil dari Business Insider, tahukah kamu kalau virus korona yang kemudian disebut 2019-nCov ini ternyata lebih banyak menyerang orang-orang berusia tua? Dikutip dari Quartz, ada sebuah data di Inggris yang mengatakan bahwa di China kebanyakan kematian yang diakibatkan virus ini terjadi pada pasien berusia di atas 50 tahun. Meski karakter virusnya masih baru, tetapi dari data korban yang ada, indikasinya memang mengarah ke sana.

Nah, kamu mungkin sudah tahu kalau korona ini memang mirip dengan SARS dan MERS. Pada dua virus ini pun, jumlah korban meninggal didominasi usia tua atau mereka yang berusia di atas 50 tahun. Jadi sampai di sini, setidaknya kita bisa simpulkan kalau selain menambah kewaspadaan pada diri sendiri, harusnya kamu juga mengingatkan orangtuamu.

Lalu kenapa orangtua lebih rentan?

Sekurangnya ada dua alasan utama kenapa orang usia tua lebih rentan. Pertama, karena mereka lebih berpotensi memiliki kondisi sakit yang lebih kronis, seperti diabetes atau penyakit paru. Dengan kondisi paru-paru yang tidak sebaik orang yang lebih muda, para orangtua ini akan lebih kesulitan menghadapi serangan patogen virus baru.

Alasan kedua adalah kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh orangtua dianggap tidak sekuat mereka yang lebih muda. Hal ini wajar terjadi seiring bertambahnya usia. Dengan kekebalan yang melemah, kemampuan tubuh merespons virus, seperti korona, juga jadi melemah.

Ahli Imunologi dari University of Texas Medical Branch, Vineet Menachery, mempelajari bagaimana virus korona berpengaruh terhadap sistem kekebalah tubuh yang menua. Yang bikin ia khawatir, virus korona ini bisa menyerang sistem kekebalan tubuh orangtua dan membuat peradangan tambahan serta efek berjenjang. Apalagi bila virus ini berkembang di organ vital seperti paru-paru, sebagaimana terjadi pada infeksi SARS dan MERS dulu.

Bagaimana dengan pasien berusia muda?

Pertanyaan ini dijawab di Makalah New England Journal of Medicine. Dari sampel 425 orang pertama di Wuhan, China, yang terinfeksi, rupanya yang berusia lebih muda dari 15 tahun lebih sedikit.

Usia rata-rata pasiennya adalan 50 tahunan ke atas. Kalaupun ada yang di usia muda, jumlahnya jauh di bawah rata-rata.

Tapi bukan berarti kamu simpulkan bahwa yang muda tidak akan kena ya. Sebab seperti dilansir dari Time, pasien bayi pun ada yang terinfeksi.

Mengapa angka korban anak-anak lebih kecil?

Seorang spesialis penyakit menular anak dari Vanderbilt University School of Medicine, Dr. Mark Denison, mengatakan bahwa SARS terakhir merebak pada sekitar 2003-2004 silam. Ini berarti, anak-anak kecil zaman sekarang kebanyakan belum lahir.

Nah, dokter tersebut mengatakan ada kemungkinan bahwa anak-anak sekarang kurang rentan dibandingkan orang dewasa terhadap korona ini. Hal ini lantaran adanya beberapa kekhasan biologi.

"Sel mereka mungkin kurang ramah terhadap virus, membuatnya lebih sulit bagi 2019-nCoV untuk bereplikasi dan melompat ke orang lain," kata Denison, seperti dikutip BBC.

Dalam Business Insider juga disebutkan bahwa anak-anak mungkin bisa kena virus ini, tapi gejalanya lebih ringan dibanding orang dewasa. Hal ini terjadi karena reaksi tubuh mereka juga berbeda.

Jadi singkatnya begini. Virus ini bisa bersarang di paru-paru. Nah, tubuh seseorang itu biasanya bereaksi terhadap virus. Saat ada virus di paru-paru, tubuh akan menutup sebagian paru-paru yang terinfeksi, sehingga membuat proses pernapasan tidak berjalan seperti kondisi normal.

Di sinilah rupanya yang membuat orang cenderung sesak napas. Maka dari itu, akan lebih buruk bila hal ini terjadi pada orang yang menderita penyakit jantung atau paru obstruktif kronis.

Demikian tiga hal soal korona yang informasinya masih belum tersampaikan dengan baik. Tentunya semua ini masih terus dalam pengembangan ya. Hal itu karena para ahli masih berupaya mengenali karakter korona ini sendiri.

Sekarang, yuk kita edukasi dan ajak semua kerabat, terutama orangtua, soal korona ini. Sebab bisa jadi mereka atau orang-orang di sekelilingnya sudah menelan informasi yang kurang tepat soal ini.

Ingat, mencegah tentunya akan lebih baik kan? Jadi pastikan bahwa keluargamu semua sudah terlindung dengan asuransi kesehatan. Ajak orangtuamu ajukan sekarang karena kebahagiaan keluarga adalah yang utama. Klik tautan ini untuk solusi asuransi terbaik.