7 Fakta Menarik tentang Meterai Elektronik

Tampilan e-meterai masih belum dipublikasikan.
Tampilan e-meterai masih belum dipublikasikan.

Tahukah kamu bahwa Pemerintah melalui Perum Peruri resmi menerbitkan meterai elektronik atau e-meterai untuk dokumen yang sifatnya elektronik. Untuk mengetahui lebih detail soal meterai digital ini, kita simak faktanya satu per satu yuk.

1. Penulisan yang Benar Ternyata Meterai

Secara lisan, penyebutan "materai" atau meterai sebenarnya sama-sama benar. Bedanya meterai adalah bentuk kata baku, sedangkan "materai" adalah bentuk tidak bakunya, meski tetap benar secara informal.

2. Contoh Penggunaan e-meterai

Contoh dokumen elektronik yang nantinya wajib pakai e-meterai misalnya:

a. surat perjanjian, surat keterangan, surat pernyataan yang dibuat dan ditandatangani secara elektronik;
b. tagihan listrik (PLN), tagihan telepon/Indihome (Telkom), tagihan kartu kredit (Bank BUMN), surat pengakuan utang (Bank BUMN), dan dokumen transaksi surat berharga (Bank BUMN/BEJ) yang bernilai di atas Rp5.000.000 dan disampaikan secara elektronik
c. Beberapa transaksi lain di mesin EDC, e-Commerce, dan Point Of Sales lainnya yang bernilai lebih dari Rp5 juta.

3. Berlandaskan Hukum dan Undang-undang

Penggunaan meterai elektronik disahkan pada 26 Oktober 2020 lalu dengan berlandas pada Undang-undang nomor 10 Tahun 2020. UU tersebut menggantikan UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai yang dianggap sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal ini didukung adanya UU Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE No. 8 Tahun 2011 pada Pasal 5 ayat 1 yang menyebutkan bahwa dokumen elektronik merupakan alat bukti hukum yang sah. Artinya, dokumen elektronik memiliki kedudukan yang sama dengan dokumen kertas, sehingga perlu penanganan yang sama termasuk penggunaan Bea Meterai Elektronik.

4. Optimalisasi Penerimaan Negara

Selama ini dokumen elektronik belum dapat dikenakan meterai. Padahal potensi penerimaan negara dalam pengenaan e-meterai sangat besar. Dalam kajian yang dilakukan Ditjen Pajak, jumlah pembuatan dokumen (termasuk dokumen elektronik) di Indonesia diperkirakan mencapai 9,65 miliar dokumen per tahun. Dari angka ini bila diambil asumsi 20 persen berinisiatif membutuhkan meterai elektronik, sehingga potensinya dapat mencapai Rp19 triliun.

5. Mengurangi Potensi Pemalsuan

Penggunaan meterai elektonik dapat mengurangi adanya pemalsuan meterai yang selama ini terjadi. Selain itu dapat meningkatkan pengawasan dan kontrol terhadap penggunaan meterai secara real time.

6. Waktu Peluncuran ke Publik

Saat tulisan ini dibuat, e-meterai belum diluncurkan ke publik. Penggunaannya masih dalam tahap uji coba di perusahaan Badan Umum Milik Negara (BUMN).

7. Cara Mendapatkan e-meterai

Rencananya akan ada empat channel distribusi e-meterai. Pertama secara host to host, yakni dari institusi penyedia meterai dan perusahaan. Lalu dari aplikasi, yang pembeliannya menggunakan e-wallet.

Kemudian dari merchant seperti minimarket, serta di Kantor Pos, baik secara offline lewat kasir ataupun online lewat website/aplikasi.

Nah, itulah tadi 7 fakta soal e-meterai yang perlu kamu ketahui. Meski masih harus bersabar sampai diluncurkan ke publik, setidaknya inovasi ini jadi sebuah kemajuan pesat dalam dunia korespondensi dan perdokumenan di Indonesia.

Selain lebih ramah lingkungan, segalanya juga jadi lebih simpel.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.