Awas Putus Cinta Bisa Bikin Boros, Ini Tanda-tandanya

Ilustrasi
Ilustrasi

Ada banyak hal yang membuat kita terjebak dalam gaya hidup boros. Sayangnya, hal-hal tersebut kadang tidak kita sadari.

Nah, salah satu penyebab gaya hidup boros yang kerap tidak sadari adalah putus cinta. Wah, kok bisa ya? Tentu saja bisa. Agak sadis sih, tapi kadang kenyataan memang ada episode pahitnya—dan sebagai anak muda, kamu harus siap menghadapinya.

Dilansir dari Halodoc, kondisi dalam kesedihan atau depresi akan membuat seseorang berbuat segala cara agar bisa kembali bahagia. Misalnya, menghibur diri dengan mulai sekadar makan hingga jalan-jalan atau belanja.

Padahal, tak ada jaminan bahwa hal tersebut bisa menyembuhkan hati yang terluka. Lebih celaka lagi, bila barang belanjaan adalah barang yang tidak dibutuhkan.

Program menurunkan berat badan karena penambahan berat badan pun bisa menguras kantong. Biaya bulanan di pusat kebugaran tidak bisa dibilang murah.

Intinya, banyak situasi yang bisa memicu seseorang menjadi boros. Bahkan, situasi itu tak direncanakan sama sekali.

Misalnya, saat datang ke mal untuk makan siang, namun ada banyak gerai menawarkan diskon yang akhirnya membuat seseorang tertarik belanja di luar rencana. Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo mengatakan, beli barang tanpa rencana juga bisa dibilang boros. Apalagi, barang tersebut sebetulnya tak terlalu dibutuhkan.

Perencana keuangan Finansial Consulting Eko Endarto menambahkan, pemborosan pengeluaran juga bisa terjadi dari hobi. "Bahkan, kegiatan sosial pun juga bisa jadi pemborosan tanpa perencanaan dan target anggaran," katanya.

Boros sendiri adalah kondisi ketika pengeluaran atawa anggaran yang sudah dibuat melewati rata-rata pengeluaran wajar. Bisa pula diartikan kondisi saat pengeluaran tak sesuai kebutuhan atau manfaat serta kemampuan keuangan seseorang.

Pepatah populernya, besar pasak dibanding tiang. Meski tak ada patokan tertentu seseorang dikatakan boros, namun harus diingat bahwa pengeluaran konsumtif sekitar 40%-50% dari penghasilan sudah masuk kategori boros.

"Kalau pengeluaran konsumtif lebih dari angka itu, maka ada pemborosan," ungkap Eko. Menurutnya, seseorang dianggap boros bila ia menggunakan uang untuk sesuatu yang sebenarnya belum dibutuhkan atau berlebih, dan berpotensi mengganggu keuangan karena tidak sesuai anggaran.

Nah, sekarang sudah tahu kan tanda-tandanya? Putus cinta bukan akhir dari segalanya kok. Malahan awal dari babak baru. Semangat ya.