Belajar Bahagia dari Negara-Negara Nordik

Keindahan alam Norwegia turut membuat warganya hidup bahagia
Keindahan alam Norwegia turut membuat warganya hidup bahagia

Semua orang tentu ingin hidup bahagia. Kebahagiaan sudah menjadi semacam tujuan hidup tak tertulis bagi tiap orang.

Untuk menilai apakah kamu bahagia atau tidak, memang bukan perkara mudah. Meski begitu, kamu tetap bisa mengukurnya dengan menjawab pertanyaan sederhana ini: apakah kamu merasa puas dengan kehidupan yang kamu jalani?

Nah, tingkat kepuasan terhadap kehidupan juga dijadikan salah satu variabel oleh para ilmuwan yang tergabung dalam Sustainable Development Solutions Network untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyusun peringkat negara terbahagia di dunia. Tiap tahun, peringkat tersebut dirilis dalam World Happiness Report.

Negara-negara Nordik kerap mendominasi negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia. Tahun kemarin, Finlandia ditetapkan sebagai negara terbahagia. Prestasi ini mengulangi raihan pada 2018.

Tahun 2017, Norwegia juga menduduki posisi teratas negara paling bahagia. Sementara, negara Nordik lainnya, Denmark, pernah jadi nomor satu pada 2013 dan 2016.

Jeff Sachs, salah satu pencetus World Happiness Report dan profesor di Columbia University, menjelaskan, keberhasilan negara-negara Nordik menjadi negara terbahagia ini bukan suatu kebetulan. Mereka punya cara hidup yang memprioritaskan keseimbangan. Cara inilah yang menjadi formula untuk mencapai kebahagiaan bagi orang-orang Nordik.

“Mereka bukan tipe masyarakat yang berambisi untuk menjadi seorang miliarder. Mereka mencari keseimbangan hidup dan hasilnya sangat positif,” ujar Sachs, seperti dikutip dari CNBC.

Keseimbangan hidup ini, ditambah perasaan “cukup”, menjadi seni hidup orang Nordik yang disebut “Lagom”. Kita bisa belajar dari cara hidup mereka untuk mencapai kebahagiaan. Caranya, dengan mengikuti prinsip-prinsip Lagom berikut ini.

Tidak berlebihan mengejar kekayaan

Orang Nordik tidak mengejar kekayaan secara berlebihan. Mereka juga tidak bekerja secara berlebihan. Bahkan, di Denmark, jam kerja dalam seminggu hanya 37 jam. Bandingkan dengan di Indonesia yang selama 40 jam tiap minggu. Kerja lembur pun dianggap sebagai kerugian.

Meski jam kerja sedikit, cara kerja orang Nordik sangat efisien sehingga kualitas pekerjaan tetap terjaga. Dengan efisiensi itu pula, mereka bisa punya waktu banyak untuk keluarga.

Jadi, prinsip hidup orang Nordik bukan kekayaan yang dikejar, melainkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan agar kebahagiaan bisa diperoleh.

Mengonsumsi makanan organik

Orang Nordik juga memiliki pola hidup sehat. Mereka memilih mengonsumsi makanan organik. Selain itu, olahan makanannya pun enggak ribet dan rumit sehingga gizi dalam makanan tetap terjaga.

Mereka sadar kondisi kesehatan dan asupan gizi turut memengaruhi kebahagiaan. Makanya, mereka menjaga pola sehat itu.

Saat menyantap makanan, mereka tidak menyambi dengan kegiatan lain. Dengan begitu, mereka bisa fokus menghabiskan makanan.

Bukan itu saja, orang Nordik juga tak pernah menyisakan makanan. Hal ini menghindarkan dari perasaan bersalah karena tidak menghabiskan makanan.

Tidak membohongi diri sendiri dan menghargai orang lain

Orang Nordik tidak melebihi-lebihkan diri sendiri agar terlihat lebih baik di mata orang lain. Mereka cenderung rendah hati dan jarang menceritakan kesuksesan diri sendiri.

Di lingkungan pekerjaan, mereka juga menghindari pertikaian. Mereka sangat menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian, stres di kantor pun bisa dihindari.

Bagaimana, tertarik mencoba? Mumpung masih di awal tahun, kamu bisa ikuti seni hidup Lagom dari orang Nordik agar hidup lebih bahagia.