Belajar dari Habibie, Kerja Keras untuk Cicil Rumah 20 Tahun

B.J. Habibie
B.J. Habibie

Sejak semalam, kediaman Almarhum mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie di Patra Kuningan dibanjiri masyarakat dari berbagai kalangan. Semua datang untuk berbelasungkawa atas kepergian sosok Bapak Demokrasi Indonesia tersebut.

Ya, 11 September 2019 kemarin, Indonesia telah kehilangan sosok yang begitu istimewa. B.J. Habibie wafat di usia 83 tahun dan meninggalkan segudang cerita dan prestasi.

Tak heran bila kepergian Presiden Indonesia Ketiga ini diwarnai tangis haru nan bangga dari seluruh masyarakat Indonesia. Bagaimanapun ia sudah menjadi panutan, terutama untuk para generasi muda Indonesia, dalam hal berdedikasi pada negara.

Rumahnya di Patra Kuningan pun dipenuhi karangan bunga. Berbagai tokoh penting turut hadir member penghormatan terakhir.

Ngomong-ngomong soal rumahnya di Patra Kuningan, tahukah kamu kalau Habibie mendapatkannya juga dengan usaha keras? Meski diminta tinggal di istana kala itu, ia lebih memilih tinggal di rumahnya yang ia cicil selama 20 tahun tersebut.

Awalnya, bangunan ini merupakan milik Patra Jasa. Sekitar tahun 1975, PT Pertamina (Persero) mengalokasikannya sebagai tempat tinggal Habibie. Sekadar pengingat, dulu Rudi, sapaannya, memang penasihat Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo.

Lantaran betah, Habibie meminta izin ke Pertamina untuk membeli rumah tersebut. Ia tidak membeli secara tunai, melainkan mengangsur.

Menariknya, sebelum menetap di Patra Kuningan ini, Habibie juga pernah mengontrak di kediaman Jenderal (Purn.) Poniman di Jalan Bangka 5, Kemang, Jakarta Selatan.

Ya, Ayah tiga anak ini memang begitu cinta dengan rumahnya. Hingga menjabat sebagai wakil presiden, kemudian menjadi presiden, Habibie tak pernah mau pindah dari tempat tinggalnya. Bahkan ia sempat beradu mulut dengan Pasukan Pengaman Presiden yang memintanya pindah ke Istana.

"Kata Paspampres, tidak aman tinggal di rumah ini," cerita Habibie. "Selama 22 tahun saya tinggal di sini aman-aman saja. Masak dalam 24 jam saya menjadi wakil presiden langsung tidak aman," katanya seperti dilansir dari Tempo.

Penolakan Habibie untuk pindah pun disampaikan ke Presiden Soeharto. Ia mengatakan rela bekerja selama 24 jam sehari. Namun tidak bisa terima jika ada yang mengatur tempat ia untuk tidur.

"Kalau Soeharto mau keluar dari Cendana, baru saya mau keluar dari Patra Kuningan," kata anak keempat dari delapan bersaudara ini.

Wah, benar-benar jadi panutan sejati ya. Tak cuma jenius dalam ilmu pengetahuan, Habibie pun sosok yang sederhana dan pekerja keras.