Belajar Katakan Tidak Pada Latte Factor

Ilustrasi
Ilustrasi

"Enggak apa-apa deh ngopi hari ini, besok tidak lagi."

Pernah mengalami hal ini? Benarkah kamu tidak membeli kopi lagi di keesokan harinya? Sebelum menjawabnya, coba simak cerita berikut ini.

Nia, karyawan swasta berusia 30, mengaku kesulitan mengatasi kebiasaan mengopinya yang berlebihan. Menurutnya, mengopi setiap hari tidak akan memengaruhi keuangannya. Apalagi harganya juga murah.

Namun lihat dia sekarang. Meski sudah bekerja selama 6 tahun, ia masih belum bisa mencicil rumah atau apartemen. Bahkan tabungan pun selalu habis.

Ia juga sadar sebagian besar gajinya memang habis untuk gaya hidup. Selain kopi, ia juga gemar jajan dan belanja kecil-kecilan hingga menggerogoti uangnya.

Masing-masing harganya memang tidak tinggi. Tapi jika ditotal, akumulasinya tergolong besar. Bahkan mendekati gajinya. Bagaimana dengan kamu? Pernahkan merasa seperti Nia?

Jika kamu serupa dengan Nia, berarti kamu perlu mengevaluasi perencanaan keuangan kamu. Sebab jika tidak, maka apa yang sudah kamu kerjakan dan dapatkan bisa sia-sia lho.

Inilah yang dinamakan latte factor. Istilah ini dikenalkan oleh seorang motivator, penulis, dan pengusaha, David Bach.

Dalam bukunya yang berjudul Finish Rich, Bach mengatakan latte factor mengarah pada kebiasaan seseorang yang selalu menghabiskan penghasilannya untuk hal-hal kecil namun rutin.

Mengapa disebut latte karena memang umumnya mereka punya kebiasaan menghabiskan uang untuk kopi setiap hari. Namun istilah ini tak cuma untuk pengopi saja ya, tapi juga untuk yang suka belanja kecil-kecilan secara rutin setiap hari.

Dilansir dari Forbes, Bach mengungkapkan banyak orang tidak sadar kalau kebiasaannya itu tidak memberi manfaat besar dalam hidupnya. Keuangannya bisa terancam dan dirinya akan tidak punya investasi.

Padahal jika pengeluaran tersebut dikurangi dan dialihkan untuk tabungan dan investasi, justru bisa menjadi sumber pendapatan yang sangat besar lho. Keuangan per bulannya juga bisa lebih stabil dan terhindar dari kesulitan.

Bach mencoba mengingatkan tentang bahayanya latte factor ini. Ia memberi contoh pada mereka yang punya kebiasaan membeli kopi setiap hari.

Hitungannya sederhana. Jika setiap hari membeli kopi berukuran kecil, itu berarti kamu mengeluarkan setidaknya Rp30 ribu. Belum lagi jika kamu menambahkan kue atau donat.

Ini artinya, dalam seminggu, biaya kopi kamu jadi Rp210 ribu. Lalu untu sebulan, kamu sudah menghabiskan Rp1 juta. Sementara setahun, Rp12 juta kamu keluarkan cuma untuk kopi.

Mungkin saat mengeluarkan uang Rp30 ribu memang tidak terasa besar. Namun jika dijumlahkan kamu akan menemukan angka yang fantastis. Cobalah untuk menguranginya ya.