Cerita-cerita Heroik Pahlawan yang Gugur di Usia Muda

Ilustrasi
Ilustrasi

Dalam sebuah buku karya Johan Prasetya yang berjudul Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan, ada sebuah pesan dari Presiden Soekarno yang begitu mengena di dada para pemuda.

Dia berkata untuk merebut kemerdekaan, ia membutuhkan pemuda-pemuda unggul yang memiliki visi besar mengguncang dunia. Sebab menurut pria yang biasa disapa Bung Karno tersebut, jumlah penduduk yang besar saja tidak cukup untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang diperhitungkan di panggung dunia.

Kata-katanya tersebut tentu saja menggerakkan hati banyak pemuda untuk ikut berjuang. Beberapa bahkan ada yang gugur di usia muda.

Nah, untuk mengenang jasa-jasa pahlawan, sudah sepatutnya kita mengenal mereka. Apalagi Bung Karno pun pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.

Yuk ketahui 8 pahlawan yang gugur di usia muda berikut ini.

1. R.A. Kartini

Tak ada yang tak mengenal dirinya. Raden Adjeng Kartini atau lebih dikenal RA Kartini sebenarnya merupakan putri bangsawan Jawa. Namun meski tinggal di lingkungan terpandang, Kartini berani memperjuangkan nasib rakyat kecil melawan Belanda.

Perjuangannya memang tidak melalui pertarungan layaknya perang. Ia lebih aktif memperjuangkan hak dan emansipasi perempuan. Namun tulisan dan pemikirannya berhasil sampai ke Belanda dan dimuat di media-media Negeri Kincir Angin tersebut. Dunia pun tergugah dan mengaguminya.

Setelah beberapa kali ikut berjuang, Kartini gugur di usia 25 tahun, tepatnya pada 17 September 1904, tiga hari setelah melahirkan putranya. Setelah wafat, surat-surat Kartini dibukukan dalam buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Sejak itu, suara dan peran perempuan mulai diperhitungkan.

2. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina merupakan pahlawan remaja yang ikut terjun melawan Belanda dalam Perang Pattimura 1817. Ia sampai ditangkap dan diasingkan ke Batavia.

Dalam perjalanan ke Batavia, Martha menolak memberikan informasi, dan tidak mau makan. Ia pun jatuh sakit dan meninggal di usianya yang baru 17 tahun.

3. Jenderal Sudirman

Namanya mencuat ketika menjadi Panglima Angkatan Perang Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia memimpin perang ketika Yogyakarta berhasil dikuasai Belanda serta menawan Bung Karno dan Bung Hatta. Ia pun menjadi tokoh sentral saat terjadi agresi militer Belanda II.

Meski dalam keadaan sakit, pria kelahiran Bondas, Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916 ini tetap memimpin pasukan melawan Belanda dengan taktik perang gerilya. Sudirman yang sudah menjadi Jenderal di usia 31 tahun tersebut akhirnya wafat dalam usia 34 tahun di Magelang, Jawa Tengah, pada 29 Januari 1950.

4. Daan Mogot

(Sumber: Trie Yas)

Daan Mogot lahir di Manado, 28 Desember 1928 dengan nama asli Elias Daniel Mogot. Awalnya, ia direkrut Seinen Dojo, pasukan paramiliter Jepang, saat usianya baru 14 tahun.

Ia kemudian menjadi instruktur Pembela Tanah Air (Peta) di Bali pada 1943 dan bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) pada 17 Agustus 1945. Tak berhenti sampai di situ, Daan Mogot meninggalkan warisan Akademi Militer Tangerang, yang saat itu berhasil merekrut 180 orang sebagai calon perwira.

Daan Mogot turut berperang dalam pertempuran heroik Lengkong pada 25 Januari 1946. Saat itu pasukannya tertekan. Meski ia terkena tembakan di dada, Daan Mogot terus bertahan dan menembaki tentara Belanda demi menyelamatkan pasukannya. Ia pun akhirnya wafat dalam usia 17 tahun.

5. Kapitan Pattimura

Ia lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku pada 8 Juni 1783. Nama aslinya Thomas Matulessy. Pemuda ini sangat berprestasi dan bahkan pernah masuk militer Inggris dengan pangkat terakhir sersan.

Pada 14 Mei 1817, rakyat Maluku melakukan sumpah setia dan mengangkat Matulessy menjadi pemimpin perlawanan terhadap Belanda yang kembali pada 1816. Rakyat pun memanggilnya Kapitan.

Nama Pattimura makin dikenal ketika berhasil menewaskan Residen Van de Berg dan tentara Belanda yang ada dalam bentengnya. Bahkan Benteng Duurstede itu juga berhasil dikuasai pasukan Pattimura.

Tak terima, Belanda dengan kelengkapan senjatanya membalas serangan dengan melakukan operasi besar-besaran. Pattimura kalah jumlah dan senjata. Ia berhasil ditangkap bersama pasukannya di sebuah rumah kawasan Siri Sori.

Di Ambon, Pattimura lantas diadili di Pengadilan Belanda dan dijatuhi hukuman gantung pada 16 Desember 1817 di depan benteng Niew Victoria, Ambon ketika dirinya berusia 34 tahun.

6. Andi Abdullah Bau Massepe

Andi Abdullah Bau Massepe lahir pada 1929. Ia adalah Ketua Umum Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) dan Koordinator perjuangan bersenjata bagi pemuda daerah Pare Pare.

Ia menjadi panglima pertama Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Hasanuddin dengan pangkat Letnan Jenderal. Dalam sebuah pertempuran melawan Belanda pada 2 Februari 1947 ia ditangkap dan ditahan 160 hari. Ia tak menyerah dan enggan memberikan informasi walaupun usianya baru 18 tahun.

7. Usman dan Harun

Harun Tohir lahir pada 4 April 1943 di Pulau Keramat Bawean, Jawa Timur. Sedangkan Usman Janatin lahir di Desa Tawangsari, Kelurahan Jatisaba, Purbalingga, pada 18 Maret 1943.

Pangkat mereka mungkin tidak tinggi. Mereka hanyalah anggota sukarelawan Korps Komando Angkatan Laut (KKO). Pada Juli 1964, mereka masuk dalam tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI, untuk menjalankan tugas rahasia.

Pada 8 Maret 1965, mereka berangkat menggunakan perahu karet dengan 12,5 kilogram bahan peledak. Tugas mereka melakukan sabotase di objek vital Singapura. Tepat pada 10 Maret 1965, mereka meledakkan bangunan McDonalds House di pusat kota Singapura.

Wajah mereka oriental. Keduanya memiliki kemampuan menguasai bahasa Tiongkok, bahasa Inggris, dan bahasa Belanda. Mereka pun menyamar sebagai pelayan dapur.

Harun dan Usman ditangkap patroli Singapura pada 13 Maret 1965 karena mesin boat yang mengangkut mereka mengalami kerusakan. Mereka menjalani hukuman gantung di penjara Changi, Singapura, pada 17 Oktober 1968. Sedangkan, kawannya, Gani mencari jalan lain dan lolos. Keduanya pun diadili hingga dijatuhi vonis mati di usia 25 tahun. Untuk mengenang jasa keduanya, nama mereka diabadikan sebagai nama kapal perang RI Usman-Harun.

Itu tadi kisah-kisah heroik para pahlawan yang gugur di usia muda. Banyak hal yang bisa dipetik dari perjuangan mereka. Salah satunya adalah semangat untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu mengguncang dunia, seperti yang dikatakan Presiden Soekarno. Tanpa perjuangan, maka tak akan ada hasil yang didapat.

Yuk, jadi generasi muda yang selalu berjuang. Selamat Hari Pahlawan.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.