Dilema Pepatah Don't Judge a Book By It's Cover

Ilustrasi
Ilustrasi

Masih ingat kan dengan pepatah klasik don’t judge a book by it's cover? Idiom yang berasal dari Inggris ini sebenarnya mengajarkan kita untuk tidak menilai orang dari luarnya saja. Namun ya tetap saja masih ada orang yang melakukannya.

Ambil contoh saat melihat orang berpenampilan berantakan. Biasanya dalam hati kita akan menebak orang tersebut bukan dari kalangan terpandang.

Sama halnya saat melihat seorang wanita dengan gaun motif bunga berwarna pink sambil memegang tas tangan. Tentu kita menilai dia anggun, lembut, atau feminim.

Hal ini memang tidak bisa dipungkiri. Menilai seseorang dari penampilan tetap menjadi sesuatu yang wajar. Sebab apa lagi yang bisa dijadikan penilaian ketika baru bertemu seseorang yang belum kita kenal?

Tapi tak bisa ditampik juga bahwa kita bisa saja salah saat menilai orang hanya dari penampilannya. Hal ini akhirnya menjadi dilema tersendiri dalam menyikapi pepatah tadi.

Nah, tahukah kamu, ternyata masalah terkait ini sampai ada penelitiannya lho. Bahkan sudah diteliti sejak lama.

Dilansir dari The New India Express, pada abad 17-an, ada seorang Pastor asal Swiss bernama Johann Kaspar Lavater yang pernah menulis serangkaian esai dan menarik perhatian banyak orang. Dalam esainya, ia menyatakan bahwa bentuk wajah seseorang bisa digunakan untuk menilai kesesuaiannya dengan pekerjaan tertentu.

Esai tersebut kemudian dikenal sebagai Physiognomy dan dianggap sebagai sebuah fakta ilmiah. Untuk kamu yang tak tahu, konsep physiognomy ini populer pada awal abad 19. Malahan sampai dipercaya oleh pencipta teori evolusi, Charles Darwin lho.

Untung saja konsep physiognomy ini gugur sebagai ilmu saintifik pada akhir abad 19. Sebab kalau tidak, mungkin saja semua HRD di dunia akan menjadikan wajah sebagai salah satu kriteria diterima tidaknya pelamar di perusahaan.

Bersamaan dengan physiognomy, ada lagi konsep phrenology. Ini adalah ilmu untuk melihat kepribadian seseorang berdasarkan tonjolan di tengkoraknya. Nasib ilmu ini pun kandas di tahun yang sama.

Masih belum puas, peneliti lain lantas berupaya mempelajari akurasi penilaian berdasarkan penampilan. Uniknya, beberapa peneliti berhasil membuktikan bahwa penilaian terkait keterbukaan dan kepintaran seseorang dilihat dari penampilannya merupakan cara yang cukup akurat.

Namun lagi-lagi, keakuratan dari konsep ini pun masih dipertanyakan. Sebab pada kasus-kasus tertentu, seseorang yang berwajah sangar ternyata belum pasti gagah dan pemberani.

Nah, lemahnya konsep-konsep itulah yang lantas menguatkan pepatah don’t judge a book by it's cover. Hanya saja memang, konteksnya cuma mengarah pada sifat dan wataknya saja.

Artinya, penampilan, dalam hal ini busana, mau tak mau tetap menjadi acuan penilaian. Tentunya akan lebih baik cover-nya bagus dan "dalamnya" juga bagus, kan?

Terutama bagi kamu yang ingin melamar kerja. Memberi kesan pertama dengan penampilan yang baik setidaknya sudah memberimu peluang untuk bisa bergabung dengan perusahaan yang kamu idam-idamkan.

Kebetulan tuh di Berrybenka.com dan hijabenka.com sedang ada diskon khusus lho bagi kamu pengguna Kartu Kredit BCA. Yuk jangan sampai ketinggalan.