Mana Pilihan Milenial, Apartemen atau Rumah Tapak?

Ilustrasi
Ilustrasi

Memiliki rumah menjadi salah satu kebutuhan primer setiap orang. Bila dahulu kepemilikan rumah menjadi kebutuhan mewah dan tak wajib dimiliki, kini tak memiliki rumah didefinisikan layaknya tak punya tempat tinggal atau domisili tetap.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah menyamakan antara tempat tinggal dengan rumah, baik rumah orang tua, rumah pribadi, rumah kontrakan, atau indekos. Intinya memiliki rumah berarti memiliki luas tanah dan luas bangunan.

Namun, ketersediaan lahan tanah untuk terus membangun rumah tapak semakin terbatas. Untuk menyiasati hal tersebut, pengembang bahkan pemerintah mulai gencar membangun tempat tinggal berupa apartemen atau rumah susun (rusun).

Lantas, seberapa siap masyarakat Indonesia terutama milenial untuk membeli apartemen? Apa bedanya dan mana yang lebih menguntungkan? Berikut kelebihan dan kekurangan apartemen dan rumah tapak.

Status Keluarga

Jika kamu belum menikah, tinggal di apartemen akan lebih praktis. Bila membutuhkan kamar yang cukup luas, kamu dapat memilih apartemen tipe studio. Selain itu, kamu juga tidak dipusingkan dengan perawatan tempat tinggal.

Sementara itu, perawatan rumah tapak lebih kompleks dibandingkan apartemen. Ada waktu dan biaya yang terpotong untuk merawat kebun, atap yang kadang bocor saat hujan, serta lampu penerangan yang jumlah titiknya cukup banyak.

Lain hal bila kamu sudah berkeluarga dan ingin menikmati suasana pagi yang segar dan bermain di halaman tempat tinggal. Saat sudah berada di fase ini sebaiknya kamu memilih rumah tapak. Sesuaikan rumah tapak yang hendak kamu beli dengan kondisi dan kebutuhan keluarga terhadap lingkungan tempat tinggal.

Jarak antara Tempat Tinggal dan Tempat Bekerja

Salah satu faktor utama orang membeli apartemen, yaitu untuk mendekatkan diri ke tempat kerja. Kebanyakan apartemen didirikan di tengah kota, atau walaupun di pinggiran, letaknya di dekat pusat bisnis dan alat transportasi publik, seperti bus atau KRL Commuter Line. Kedekatan dengan tempat kerja membuat waktu kamu tidak terbuang untuk perjalanan menembus kemacetan dari pinggiran kota.

Hanya saja, bila kamu sudah pensiun dari tempat kamu bekerja dan memilih untuk lebih lama menghabiskan waktu di tempat tinggal, rumah tapak adalah pilihan terbaik. Kamu dapat menikmati indahnya halaman rumah dan kepraktisan untuk akses keluar dan masuk tempat tinggal.

Harga

Harga tempat tinggal, baik rumah tapak atau apartemen terus meningkat setiap tahun. Namun, bila membandingkan harga rumah tapak dan apartemen, harga rumah tapak relatif lebih mahal dibandingkan apartemen di lokasi yang sama. Hal tersebut disebabkan rumah tapak memiliki keunggulan tersedianya tanah.

Selain memiliki keunggulan kepemilikan tanah, rumah tapak juga bisa menjadi investasi lebih baik untuk jangka waktu yang lebih panjang. Statusnya pun bisa berubah menjadi hak milik, sehingga kepemilikan rumah tapak lebih menjanjikan sebagai tempat tinggal yang diwariskan.

Urusan membeli rumah tapak maupun apartemen, kamu bisa mengandalkan Bank BCA sebagai pilihan tepat untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). Ada banyak keunggulan yang bisa didapat, misalnya pilihan suku bunga yang beragam dan fitur sesuai kebutuhan. Selain itu, angsurannya pun ringan dengan suku bunga floating yang relatif stabil.

Kamu juga tak perlu khawatir bila rumah tapak kamu beli berada di pinggiran kota atau kota penyangga. Pasalnya, KPR BCA banyak melakukan kerja sama dengan rekanan pengembang properti untuk memudahkan nasabah mengajukan KPR.

Yuk, klik tautan ini untuk cari tahu informasi lebih lanjut untuk informasi lebih detail tentang KPR BCA. Saatnya wujudkan mimpi kamu untuk membeli rumah idaman.