Mengapa Banyak yang Belum Kompak Soal Padanan Kata New Normal?

Ilustrasi
Ilustrasi

Masyarakat mulai ramai memperbincangkan soal new normal. Beberapa kemudian ada yang menyebutnya normal baru. Beberapa lainnya ada juga yang bilang kenormalan baru. Pertanyaannya, kok enggak kompak, sih?

Seperti kita tahu, salah satu sumber informasi adalah media. Sementara media memang punya kebijakan masing-masing untuk menggunakan pilihan kata.

Hal ini bisa kamu lihat kalau mengetik arti dari new normal di mesin pencari. Maka akan terlihat sejumlah media tidak kompak menggunakan padanan atau arti yang sama. Seperti disebutkan tadi, ada yang normal baru, kenormalan baru, bahkan ada juga yang tatanan baru, aturan baru, dan sebagainya.

Nah, rupanya perbedaan tersebut muncul karena kepentingan SEO. Tahu, kan bagaimana SEO jadi faktor penting yang memengaruhi peringkat website di halaman mesin pencari? Semakin banyak yang menggunakan kata tertentu, biasanya akan memengaruhi peringkatnya.

Lantaran istilah new normal lebih dulu muncul di luar Indonesia, para penulis Tanah Air kemudian berinisiatif menggunakan padanan kata masing-masing. Barulah setelah itu, Pemerintah melalui Badan Bahasa meluncurkan padanan kata resmi new normal, yakni kenormalan baru.

"Badan bahasa sudah memberikan istilah Indonesianya yaitu Kenormalan Baru. Kata Normal sebetulnya dalam bahasa Inggris sudah dijadikan nomina makanya jadi New Normal. Badan bahasa kemudian membuat padanannya menjadi Kenormalan. Karena kalau normal itu adjektiva kata sifat, jadi Kenormalan Baru," jelas Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat, ahli bahasa dari Universitas Indonesia, seperti dikutip Detik.com.

Menurut Rahayu, kata-kata yang dipilih ini sebenarnya sudah benar. "Karena normal itu artinya bisa bermacam-macam, bergantung pada masyarakatnya, wilayah mereka tinggal. Semua ketika kehidupannya itu rutin seperti sehari-hari menganggap hidupnya itu normal. Tapi sekarang ini karena ada gangguan virus korona, segala sesuatunya berubah jadi semua menganggap seperti hidupnya tidak normal," lanjut Guru Besar Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia itu.

Nah, sampai di sini kurang lebih paham lah ya. Rupanya kata normal dalam bahasa Inggris sendiri memang sudah jadi nomina. Itulah kenapa frase bahasa Inggrisnya cuma New Normal.

Tapi normal dalam bahasa Indonesia rupanya berstatus adjektiva kata sifat. Agar menjadi nomina, Badan Bahasa pun membuat padanan Kenormalan. Begitulah ceritanya.

Ya, korona memang telah mengubah banyak hal. Setelah mencoba meredam penyebaran dengan karantina dan semacamnya, dunia pun sepakat untuk kembali melangkah dan berdamai dengan korona.

Aktivitas harus terus berjalan, tapi dengan kenormalan baru yang dilengkapi protokol kesehatan, protokol kebersihan, dan protokol keamanan. Awalnya mungkin sulit. Namun dengan adanya dukungan teknologi, semua jadi semakin mudah.

Untuk keperluan pertemuan, ada aplikasi telekonferensi. Untuk keperluan perjalanan, kita bisa meminimalisir potensi penularan dengan memakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan. Untuk keperluan transaksi pun sekarang ada aplikasi BCA mobile—yang bisa memudahkan kita bertransaksi apapun, kapanpun dan di manapun.

Mau buka rekening, tinggal buka BCA mobile di HP-mu, lalu pilih menu “buka rekening baru”.

Mau bayar-bayar tagihan? Buka fitur “m-Payment” di BCA mobile, tinggal pilih mau bayar apa? Kartu kredit, handphone, BPJS, asuransi, internet, pinjaman, dan lain-lain.

Mau transfer-transfer? Buka aja fitur “m-transfer” di BCA mobile, tinggal pilih tuh mau apa.

Top up saldo e-wallet, tinggal klik “transfer Virtual Account”. Transfer ke rekening BCA / bank lain, tinggal klik “antar rekening” atau “antar bank”.

Bahkan mau beli-beli? Buka aja fitur “m-commerce” di BCA mobile, tinggal pilih tuh mau beli voucher pulsa, PLN pra-bayar, kuota internet, dan lain-lain.

Masih banyak yang bisa BCA mobile lakukan. Penasaran?

Cek di sini buat lihat apa saja yang bisa dilakukan BCA mobile