Mengungkap Peran Guru dalam Kampanye Cashless Society

Ilustrasi cashless society
Ilustrasi cashless society

Rajin menabung pangkal kaya. Istilah lawas ini pernah begitu populer di zamannya. Terlepas dari menjadi kaya kini tak cuma dari menabung, pepatah tersebut menjadi contoh sukses ajaran guru terhadap murid-muridnya.

Seperti diketahui, pepatah ini dahulu sering dijejali guru-guru kita di sekolah. Hal itu lantas diaplikasikan banyak orang dan melahirkan orang-orang sukses yang kaya karena tabungannya banyak.

Dengan kata lain, profesi guru telah menjadi tombak pendidikan bahwa rajinlah menabung agar kaya di kemudian hari. Jumlah masyarakat yang sadar untuk menabung di bank pun bertambah secara signifikan.

Kini zaman terus berubah. Masyarakat mulai dikenalkan dengan berbagai kemudahan dalam hal bertransaksi. Kemudian dengan semangat peduli lingkungan berbalut kenyamanan dan keamanan, penggunaan uang kertas mulai dikurangi.

Begitulah cashless society atau dunia dengan transaksi nontunai dikampanyekan. Pertanyaannya sekarang, akankah guru menjadi tombak pendidikan cashless society?

Dunia perbankan sendiri saat ini sudah gencar mengenalkan kemudahan transaksi nontunai. Literasi-literasi yang berkaitan juga digalakkan, termasuk kepada para guru-guru. Lewat guru, kampanye cashless society diharapkan bisa diteruskan lagi oleh murid-muridnya ke masyarkat luas.

Maka dari itu, pembekalan terhadap guru sudah semestinya ditingkatkan. Hal-hal seperti pemanfaatan mobile banking, uang elektronik, sampai dompet digital perlu diberikan pada mereka, termasuk berbagai risiko dan modus kejahatan yang juga berkembang.

Dengan begitu, jumlah masyarakat yang melek teknologi perbankan bisa bertambah sehingga generasi masa depan Indonesia dapat makin mantap bersaing dengan negara lain.

Hal ini pun diungkapkan Presiden Direktur Bank BCA Jahja Setiaatmadja saat mengadakan acara silaturahmi bersama para rekan media nasional beberapa hari lalu. Ia mengungkapkan bahwa jumlah masyarakat yang menggunakan transaksi nontunai semakin banyak.

Pada momen Lebaran kemarin, misalnya. "Selama libur Lebaran, transaksi harian BCA mencapai tertinggi Rp32 juta, meningkat 25 persen dari tahun lalu yang hanya Rp27 juta. Dari transaksi itu yang paling menonjol peningkatannya dari kartu Flazz." jelas Jahja.

Satu contoh kecil ini saja sudah bisa memberi gambaran bagaimana masyarakat sebenarnya tertarik untuk bertransaksi nontunai. Bukan tidak mungkin cashless society bisa terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Namun tentu saja hal ini harus dibarengi dengan pemahaman akan ancaman kejahatan yang turut berkembang. Masyarakat harus tahu modus-modus apa saja yang bisa membuatnya menjadi korban.

Nah, guru lagi-lagi bisa diandalkan untuk menjadi ujung tombak pendidikan cashless society. Dari mereka, agen-agen pendidikan yang lebih muda akan muncul dan mencerdaskan negeri ini.

Bagaimana menurutmu?