Mozilla: Banyak Orang Tak Sadar Sudah Membagikan Informasi Pribadi

Ilustrasi
Ilustrasi

Internet memang sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Kita butuh internet untuk keperluan bekerja dan belajar di rumah.

Selain itu, orang berinternet juga untuk keperluan lain, seperti belanja, berkomunikasi, bisnis, atau bahkan sekadar cari hiburan. Jadi wajar kalau berdasarkan survei We Are Social & Hootsuite yang dibagikan Mozilla, orang Indonesia bisa menghabiskan rata-rata waktu 7 jam 59 menit hanya untuk berinternet.

Sayangnya, kegiatan berinternet ini kadang tidak diikuti pengetahuan akan keamanannya. Ternyata masyarakat sering enggak sadar kalau sudah berbagi informasi pribadi termasuk profil, lokasi, dan informasi lainnya. Parahnya lagi mereka pun tak sadar telah berbagi kontak dan data lainnya.

Bagi mereka, yang penting cepat. Urusan aman belakangan. Mereka juga berpikir: masa sih cuma berbagi data saja bisa bikin uang kita hilang.

Nah, ini dia. Masalahnya, ke mana dulu kita berbagi data? Valid enggak yang minta? Terawasi enggak? Terjamin enggak privasinya?

Memang, penggunaan data yang digunakan beberapa aplikasi sebenarnya tidak semuanya berdampak buruk. Ada yang menggunakannya untuk aset mengembangkan produk dan layanan digitalnya.

Namun ada juga yang malah tak bertanggung jawab dan menyalahgunakan data informasi pengguna. Ini dia sebenarnya yang harus kita waspadai. Kita harus hati-hati apabila mengakses perusahaan teknologi yang tidak kredibel dan terawasi badan resmi.

Ambil contoh soal pinjaman online yang tengah marak. Satu sisi, penyedia layanan pinjaman memberikan akses cepat dan gampang. Uang pun langsung cair, dan bulan depan langsung cicil.

Sekarang lihat, sudah berapa banyak perusahaan fintech abal-abal yang merugikan masyarakat? Tak cuma terbukti menjual informasi pengguna, mereka juga memeras tanpa ampun, Guys.

Data yang dikeluarkan Satgas Waspada Investasi (SWI) per Maret 2020 menunjukkan sekurangnya ada 388 entitas fintech peer to peer lending atau pinjaman online ilegal yang ditemukan masih beroperasi secara bebas.

Pada Januari 2020, SWI sudah lebih dulu menemukan 120 entitas yang melakukan kegiatan fintech peer to peer lending ilegal yang tidak terdaftar di OJK. Jadi kalau ditotal, jumlahnya sudah 508 entitas. Itu tahun ini. Kalau dijumlah dari 2018 lalu, SWI mengonfirmasi bahwa jumlah entitasnya mencapai 2406.

Di sinilah mengapa anak muda seperti kita harus berperan dalam memerangi modus kejahatan online. Pengetahuan soal ke mana data kita boleh dibagikan perlu ditingkatkan.

Soalnya, berkedok penyelamat dana dengan layanan pinjaman online super cepatnya, fintech-fintech abal-abal ini sudah jadi noda dunia perinternetan. Digitalisasi yang tadinya digadang-gadang jadi solusi, malah jadi sesuatu yang ditakuti masyarakat, khususnya yang belum tersentuh internet.

Kapan kita bisa melaju kencang kalau belum semua tersentuh internet?

Yuk, ajak sekeliling kita untuk memastikan memilih lembaga keuangan yang kredibel dan diawasi oleh badan resmi seperti OJK. Periksa selalu legalitas izin atau tanda terdaftar OJK dari setiap perusahaan penawar investasi, pinjaman online, atau gadai.

Imbau mereka untuk memanfaatkan layanan pengaduan telepon ke OJK 157 atau WA 081157157157 atau email konsumen@ojk.go.id dan waspadainvestasi@ojk.go.id. Di website tersebut, kita bisa mengecek lembaga keuangan mana saja yang sudah terdaftar.

Yuk jadi generasi anti modus.