Penggunaan Listrik Bengkak Kala Pandemi? Ini Cara Menghematnya

Ilustrasi panel surya
Ilustrasi panel surya

Pandemi Covid-19 masih belum juga usai. Alih-alih berharap pandemi akan segera usai, saat ini malah merebak varian baru bernana Omicron. Hingga hari ini, Senin (10/1/2022), sudah ditemukan 414 orang yang terinfeksi varian baru ini di Indonesia.

Merebaknya varian baru ini tentu akan membuat harapan untuk kembali bekerja dari kantor bisa saja sirna. Kita akan dihadapkan kembali untuk lebih banyak beraktivitas dari rumah. Dan tentu hal ini bisa membuat tagihan listrik kembali meningkat.

Pasalnya, Fandayani Soesilo, CEO SUNterra, perusahaan yang memproduksi solar panel mengatakan, selama pandemi Covid-19 banyak masyarakat di Indonesia yang bercerita jika penggunaan listriknya meningkat lebih dari 50% akibat pemakaian AC dan elektronik lainnya.

Karena tingginya biaya penggunaan listrik selama pandemi membuat banyak masyarakat terdorong untuk menghemat penggunaan listrik. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan PLTS Atap alias panel surya.

Menurut Fanda, dengan menggunakan panel surya masyarakat dapat menghemat penggunaan listrik sebesar 30 hingga 50 persen. Selain itu, masyakarat juga bisa menjaga kesinambungan lingkungan.

Fanda mengestimasi, ke depan masyarakat akan semakin menggandrungi panel surya. Penyebabnya adalah penghematan yang didapat dari penggunaan panel surya akan semakin tinggi. Pasalnya, kelebihan energi yang didapat dari panel surya bisa dijual ke PLN.

"Saat ini, PLN baru membeli tenaga listrik dari solar panel yang dihasilkan masyarakat dengan harga 65 persen. Di 2022 PLN wajib membeli dengan harga 100 persen. Maka dari itu, saya mengestimasi pada 2022 bisnis ini bisa meningkat hingga 100 persen,” kata Fanda.

Alasan Fanda memang masuk akal. Maklum, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan Permen ESDM No 26 Tahun 2021 Tentang Pembangkit Lisrik Tenaga Surya Atap yang Terhubung Pada Jaringan Tenaga Listrik Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum. Peraturan ini diundangkan pada 20 Agustus 2021.

Permen ini salah satunya mengatur tentang perhitungan ekspor dan impor energi listrik. Pada Pasal 6 disebutkan jika energi listrik Pelanggan PLTS Atap yang diekspor, dihitung berdasarkan nilai kWh Ekspor yang tercatat pada Meter kWh Ekspor-Impor dikali 100% (seratus persen). Perhitungan energi listrik Pelanggan PLTS Atap dilakukan setiap bulan berdasarkan selisih antara nilai kWh Impor dengan nilai kWh Ekspor.

Dengan revisi ini, maka konsumen akan lebih untung saat mengekspor atau menjual listriknya ke PLN. Maklum, dalam Permen sebelumnya, yakni Permen ESDM Nomor 49 Tahun 2018, harga jualnya masih cukup rendah, yaitu energi listrik Pelanggan PLTS Atap yang diekspor dihitung berdasarkan nilai kWh Ekspor yang tercatat pada meter kWh ekspor-impor dikali 65 persen.

Selain ketentuan ekspor, Kementerian ESDM juga akan mempercepat jangka waktu permohonan pemasangan PLTS Atap dari sebelum 15 hari menjadi 12 hari bagi yang melakukan perubahan pada Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL). Sementara, menjadi lima hari bagi pelanggan yang tanpa perubahan PJBL atau rumah tangga biasa.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.