Resep Chelsea Jadi Klub Paling Cuan di Bursa Transfer

Para pendukung Chelsea FC
Para pendukung Chelsea FC

Sejumlah media internasional gencar memberitakan bahwa Chelsea telah mencapai kesepakatan personal dengan gelandang Ajax Amsterdam, Hakim Ziyech. De Telegraph malah melaporkan bahwa The Blues tinggal melakukan pendekatan kepada Ajax untuk mendapatkan jasa pemain muda itu.

Kabar soal Ziyech ini seakan menunjukkan betapa laparnya Chelsea untuk segera beli pemain setelah dinyatakan terbebas dari larangan transfer. Seperti kita tahu, klub asal London ini dihukum tak boleh melakukan aktivitas transfer karena merekrut sejumlah pemain di bawah usia 18 tahun, termasuk Bertrand Traore.

Namun tahukah kamu, gegara tak melakukan aktivitas tersebut, Chelsea justru jadi klub paling cuan di bursa transfer musim ini. Agak aneh sebenarnya. Sebab jika melihat sejarah aktivitas transfer Chelsea sejak diambil alih taipan Rusia, Roman Abramovich pada 2003 lalu, Chelsea dikenal sebagai klub yang kerap jorjoran beli pemain.

Dulu, belum ada pemilik klub segila Roman Abramovich. Baru jadi bos Chelsea saja, Roman sudah berani mengeluarkan kocek 35,3 juta euro untuk memboyong bintang AC Milan, Andriy Shevchenko. Pembelian ini langsung memecahkan rekor transfer pemain di Liga Inggris saat itu.

Enggak berhenti di situ. Hingga musim 2010, Chelsea selalu tekor kalau urusan jual-beli pemain. Paling parah pada musim 2005, London Biru ini rugi sampai 165 juta euro. Baru di dekade 2011-2019, aktivitas transfer London Biru makin membaik. Puncaknya di musim ini.

Dari riset CIES Football Observatory, selama bursa transfer 2019-2020, total cuan bersih yang didapat Chelsea mencapai 205 juta. Rinciannya, Chelsea hanya keluar uang 45 juta euro, sedangkan pemasukannya mencapai 250 juta euro.

Pengeluaran 45 juta euro tadi dikeluarkan untuk 1 pemain saja, yakni Mateo Kovacic. Sementara, pemasukan terbesar dari penjualan Eden Hazard ke Real Madrid dengan biaya 100 juta euro.

Kok bisa Chelsea menjadi klub yang paling cuan saat ini?

Kuncinya ada di strategi jual beli pemain. Semenjak rugi ratusan juta euro, Chelsea sedikit membuat perubahan. Mereka mengincar pemain-pemain muda yang nilainya bakal naik.

Untuk menaikkan nilai pemain muda berbakat ini, Chelsea mengusung strategi dengan meminjamkan. Pemain-pemain muda tadi dibeli dengan harga murah, lalu dipinjamkan sampai ada peminat yang berani bayar lebih tinggi dari harga beli.

Strategi ini terbukti moncer. Eden Hazard dibeli dengan harga 35 juta euro, lalu dijual seharga 100 juta euro. Ramires dibeli dengan mahar 22 juta euro dan laku terjual 28 juta euro. David Luiz (beli 25 juta euro/jual 49,5 juta euro), Thibaut Courtois (beli 8,95 juta euro/jual 35 juta euro), serta banyak lagi, seperti Juan Mata, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Andre Schurrle, sampai Mohamad Salah.

Belum lagi pemasukan dari fee meminjamkan pemain yang rata-rata 1-4 juta euro per tahun. Dari cara inilah, Chelsea bisa menimbun cuan saat bursa jual-beli pemain dibuka.

Meski begitu, Chelsea enggak langsung bisa supercuan. Roman sebagai bos Chelsea harus bersabar sebelum memetik hasil dari bisnis sepak bola dan bursa transfernya.

Nah, cara Chelsea ini bisa kita tiru lho dalam berbisnis. Dengan membeli barang murah, dipoles, lalu dijual dengan harga yang lebih tinggi. Kuncinya, tetap sabar, ulet, pantang menyerah, dan selalu fokus dalam mengembangkan bisnis.

Sama juga halnya dengan film Parasite. Seperti dibahas dalam artikel Smart-Money sebelumnya, Parasite dibuat dengan bujet hanya US$11 juta. Namun berkat polesan sutradara Bong Joon-hoo, Parasite bisa meraup pendapatan kotor 100 kali lipat lebih atau sebesar US$131,4 juta. Itu kalau dijadikan Rupiah berarti sekitar Rp1,8 triliun.

Ingat, begitulah cara uang bekerja. Dengan polesan dan strategi jitu, jumlahnya bisa bertambah banyak.