Seberapa Penting Jurusan Kuliah Sama Nasib Dompetmu?

Milenial yang belum sukses mulai bertanya apakah mereka salah jurusan saat masih kuliah?
Milenial yang belum sukses mulai bertanya apakah mereka salah jurusan saat masih kuliah?

Kamu mungkin sudah mendengar kabar penunjukkan Irfan Setiaputra jadi Bos baru PT Garuda Indonesia. Nah, tahukah kamu kalau beliau ini ternyata tidak berlatar belakang industri penerbangan? Irfan justru lama berkecimpung di dunia teknologi.

Artikel ini enggak akan mengupas tuntas soal bagaimana sosok yang berpengalaman mengurusi internet tiba-tiba jadi bos maskapai pelat merah. Tapi yang jelas, terpilihnya Irfan bisa menunjukkan kalau jurusan kuliah itu enggak menjamin di mana kamu bakal bekerja. Ujung-ujungnya, jurusan kuliah itu enggak menjamin saldo di rekening kamu.

Coba deh tengok sebentar hasil survei dari iPrice belum lama ini. Riset menunjukkan kalau 58% pendiri startup sukses di Indonesia justru berlatar belakang pendidikan non-teknologi. Jadi dari 102 orang founder startup yang sukses, ada 59 orang mengambil jurusan non-teknologi, sedangkan sisanya 43 orang lagi mengambil jurusan Teknologi.

Nah, mereka yang tidak berlatar belakang teknologi itu kebanyakan mengambil jurusan Finance (8 orang), Teknik Industri (6 orang), Ekonomi (6 orang), Marketing (5 orang), dan Akuntansi (4 orang), dan macam-macam jurusan lainnya.

Pendiri yang mengambil jurusan Finance itu misalnya salah satu Co-Founder dari GoJek Michaelangelo Moran. Lalu ada lagi Co-Founder Sociolla John Rasjid. Sedangkan yang mengambil Teknik Industri itu misalnya CEO Snapcart Reynazran Royono dan CEO Moka Haryanto Tanjo.

Di jurusan Ekonomi, ada CEO dari Bhinneka Hendrik Tio, CEO HaloDoc Jonathan Sudharta, sampai board director Qraved Adrian Li. Banyak, kan? Malah sebenarnya ada banyak lagi yang seperti mereka.

Mereka pula yang mematahkan stigma kalau untuk merintis perusahaan yang berbasis teknologi itu seseorang harus mengambil jurusan yang berhubungan dengan teknologi. Faktanya ternyata enggak gitu.

Tak cuma dari lintas jurusan, mereka juga jebolan kampus Indonesia kok. Bahkan yang cuma bertitel Sarjana dari kampus Indonesia itu (dari 102 orang tadi) ada 44 orang. Sementara yang bergelar Master hanya 4 orang. Sisanya? Mereka memilih menimba ilmu di luar negeri.

Paling tidak, dari sini kita bisa tarik kesimpulan kalau kualitas kampus dalam negeri enggak kalah sama luar negeri. Memang sih, mereka yang melanjutkan S2 memilih untuk kuliah lagi ke luar negeri seperti Chief of Product Ruang Guru Iman Usman, CEO Fabelio Marshall Tegar Utoyo, atau CEO Investree Adrian A. Gunadi. Tapi tetap saja, mereka yang tetap sukses dengan mengandalkan ijazah lokal pun banyak.

Satu hal yang pasti, beda jurusan tak menutup kesempatanmu untuk belajar, kan? Jadi di tengah perkembangan teknologi digital seperti sekarang, apapun bisa dipelajari. Toh kamu memang harus belajar.

Nah, Irfan yang ditunjuk sebagai Bos Garuda memang berlatar belakang teknologi. Jebolan ITB ini juga malang melintang di bidang informatika seperti di IBM, LinkNet, Cisco, dan perusahaan Internet of Things (IoT) Sigfox Indonesia. Sekarang? Saldo rekeningnya jutru bakal makin tebal dari bidang penerbangan.

Kesimpulannya, jurusan kuliah tak menjamin kamu akan kaya dari bidang yang sama. Bisa jadi dengan etos kerja dan niat belajar yang tinggi, kamu bisa mendulang kesuksesan dari bidang lain.

Yuk semangat. Salah jurusan tak akan menghambat rezeki selama ada kerja keras, bukan?