3 Hal Inspiratif dari Djaduk Ferianto untuk Milenial

Teater Gandrik
Teater Gandrik

Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia. Seniman senior Djaduk Ferianto diberitakan telah tutup usia sekitar pukul 2.30 WIB waktu dini hari.

Adik dari Butet Kartaredjasa ini dimakamkan sekitar pukul 15.00 WIB, di Sembungan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sejumlah tokoh ternama pun turut hadir mengantar Almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Di mata milenial, Djaduk adalah salah satu seniman terfavorit. Berbagai panggung ia tekuni, termasuk pengisi musik grup teater terkenal Teater Gandrik.

Nah, kalau ada di antara kamu yang ingat dengan film Petualangan Sherina, Djaduk pernah terlibat dan mengambil peran lho. Ia berperan sebagai seorang pengusaha yang berencana menculik anak pemilik lahan pertanian untuk mengembangkan usaha propertinya. Ingat, kan?

Selama hidupnya, Djaduk menunjukkan betapa totalitas dalam bekerja bisa membawa kamu menjadi orang sukses. Meski diremehkan, perlahan ia bisa membuktikan pada dunia bahwa apa yang ia kerjakan ada nilainya.

Mau tahu hal inspiratif lainnya dari sosok Djaduk yang bisa kamu petik? Simak ulasannya berikut ini.

1. Unik

Tak cuma bisnis, dalam industri musik, keunikan dan kekhasan juga memegang peran penting. Nah, Djaduk terkenal dengan kegemarannya mengeksplorasi alat dan barang-barang yang tak biasa sebagai alat musik. Malahan ia tak sungkan mengabaikan kaidah-kaidah seni musik tradisional demi menghasilkan kontemporarisasi musik tradisional.

Oke, Djaduk memang "Jawa" banget. Tapi bukan berarti ia tertutup pada inovasi. Bahkan Djaduk blak-blakan soal perlunya dekontruksi karya seni tradisional supaya bisa merangkul lebih banyak kalangan.

Lihat saja aksinya. Ia kerap kali memadukan musik-musik tradisional dengan berbagai instrumen kekinian. Dari mulai Suling Bali, Gamelan, Bonang, Renong, Kendang Sunda, Beduk sampai Gong Cina dibaurkannya dengan sejumlah alat musik modern seperti gitar, bas lima senar, keyboard dan drum. Jadi ya tak heran kalau Djaduk lantas dijuluki maestro musik kontemporer.

Hmm... patut dicontoh nih. Sebab apapun bisnismu, tampil beda tentu jadi nilai tambah tersendiri. Bisa jadi, target pasarmu pun jadi makin luas.

2. Fokus ke Bakat, Bukan Passion

Bicara soal passion, ia sebenarnya menyukai seni rupa dan desain, sesuai dengan jurusan yang diambil saat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun ia menyadari bahwa bakatnya bukan di sana, melainkan bermain musik. Djaduk pun berlatih musik secara otodidak hingga menemukan bakatnya.

Nah, ini persis seperti yang diucapkan Motivator Muhammad Subagio. Dalam acara Managing Succesful Future World of Work yang diadakan Smart-Money.co di Universitas Indonesia pekan lalu, ia mengungkapkan pentingnya mengetahui bakat yang terpendam di diri kita.

"Jangan mengikuti passion sebab belum tentu passion-mu adalah bakatmu," ujarnya.

3. Selalu Belajar dan Berinovasi

Nyaman di zona musik tak lantas membuat Djaduk hanya bermain di situ-situ saja. Ia juga menekuni dunia perwayangan. Ia malah selalu membawa radio yang menyiarkan acara wayang, ke mana pun ia pergi.

Ketika kecil, Djaduk konon pernah bercita-cita menjadi seorang dalang. Ia juga pernah belajar menjadi seorang dalang. Oleh sebab itu sebuah buku cerita wayang tak pernah lepas dari dirinya.

Hal yang bisa dipetik di sini adalah keinginannya untuk terus belajar. Dengan begitu, ia bisa mendapat banyak pengetahuan baru untuk menciptakan inovasi yang juga penting dalam kelangsungan kariernya.

Wah, ternyata banyak hal yang bisa dipetik darinya ya. Selamat jalan Djaduk Ferianto, sang maestro musik Indonesia.