7 Fakta Moorissa Tjokro, Perempuan di Balik Kecanggihan Tesla

Morissa Tjokro (Sumber: Youtube)
Morissa Tjokro (Sumber: Youtube)

Tesla lagi, Tesla lagi. Brand yang lahir dari kejeniusan Elon Musk ini memang sedang hot banget dibicarakan. Apalagi soal kecanggihan mobil listriknya.

Kehadiran mobil ini seakan menandai gambaran masa depan. Fitur-fiturnya itu, lho!

Mulai dari keyless entry, head unit dengan layar sentuh 15 inci untuk mengoperasikan hampir seluruh fitur mobil, hingga yang tercanggih yaitu fitur kemudi otomatis alias autopilot, semua keren banget.

Nah, bicara soal teknologi autopilot ini, tahukah kamu kalau ternyata ada campur tangan anak muda Indonesia di belakangnya. Namanya Moorissa Tjokro. Ia bekerja sebagai data scientist sekaligus 1 dari 6 autopilot software engineer di Tesla. Keren, kan?

Biar enggak penasaran, simak yuk 7 Fakta Moorissa Tjokro berikut ini:

(Dok: Moorissa via VOA)
(Dok: Moorissa via VOA)

1. Peran Penting

Kalau mengintip dari situs pribadinya, Moorissa punya jobdesk: membuat produk yang melibatkan rekayasa data besar, pembelajaran mesin (regresi, klasifikasi, NLP), deret waktu, pengembangan algoritma, dan analisis eksplorasi.

Kebayang enggak? Hehehe… Intinya ia membuat sistem perangkat lunak autopilot pada mobil Tesla mampu melihat dan mendeteksi lingkungan sekitar. Singkatnya, dia bikin teknologi supaya mobil bisa jalan sendiri tanpa nabrak sana-sini.

2. Kerja Keras

"Beberapa minggu lalu saya ditarik untuk bikin full self driving atau autonomous system level lima. Jadi kita tidak perlu injak gas atau rem, bisa menikung, terus tidak hanya bisa digunakan di jalan tol saja. Jadi mobilnya kerja sendiri. Dan ini benar-benar susah banget," ujar Moorissa, dilansir CNN.

Saking susahnya, ia juga bilang pekerjaannya sangat menyita waktu. Seminggu bisa 60-70 jam!

3. Mengikuti Jejak Ayah

Jarang ada perempuan yang bekerja sebagai engineer. Dari seratusan engineer di tempatnya, hanya ada enam perempuan. Moorissa sendiri mengaku ingin jadi engineer karena mengikuti jejak sang ayah yang bekerja sebagai insinyur di bidang elektronika.

"Aku dari kecil suka matematika dan aljabar dan orangtua juga ingin aku masuk dunia sains," ujar Moorissa.

4. Cum Laude dan Magang di NASA

(Dok: Moorissa via VOA)
(Dok: Moorissa via VOA)

Perempuan kelahiran 1994 ini adalah jebolan Georgia Institute of Technology jurusan Industrial Engineering & Statistics, Amerika Serikat dengan status Summa Cum Laude. Ia melanjutkan kuliah bidang Data Science di Columbia University hingga 2017.

Kurun Oktober 2017 hingga Januari 2018, Moorissa magang di NASA, tepatnya di Goddard Institute for Space Studies untuk mempelajari pembelajaran mesin (machine learning).

5. Enggak Sengaja Kerja di Tesla

Morrissa mengaku enggak sengaja bekerja di Tesla, sebab ia memang tak pernah melamar pekerjaan ke sana. Jadi ceritanya dua tahun lalu, seorang teman magangnya mengirim resume timnya, termasuk milik Moorissa ke Tesla. Dasar jodoh, enggak lama ia dikontak langsung oleh manajemen Tesla.

6. Sering Ketemu Musk

Selama bekerja, Morrissa mengaku sering bertemu dengan pendiri Tesla, yakni Elon Musk. Tapi ya ia memang enggak pernah berinteraksi secara langsung dengan orang terkaya di dunia itu.

"Tapi sering ketemu. Dan banyak bagian dari kerjaan saya yang harus dipresentasikan di depan dia [Musk]," jelas Moorissa.

7. Punya Tesla gratisan

Ini dia. Harga Tesla kan mahal ya, di Indonesia bahkan mencapai miliaran rupiah. Tapi sebagai engineer untuk kemudi otomatis Tesla, tentu saja ia dapat mobil Tesla untuk digunakan sehari-hari.

Bagaimana, ingin seperti Morissa? Oya, Morissa punya pesan buat kamu.

"Kepada perempuan atau laki-laki yang menekuni bidang apapun, walau banyak orang yang mungkin tidak setuju terhadap apa yang kamu pilih, tapi kalau kita mengikuti kata hati, pasti tidak mungkin nyesel."

Full Self-Driving

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.