Adrian Woolfe, Sosok di Balik Kesuksesan Who Wants to be a Millionaire

Adrian Woolfe, CO-CEO LIT
Adrian Woolfe, CO-CEO LIT

Siapa yang enggak kenal kuis Who Wants to be a Millionaire? Waralaba kuis populer yang berasal dari Amerika Serikat ini sempat diadaptasi stasiun TV swasta lokal pada awal 2000-an.

Kamu yang tumbuh di era itu pasti tahu acara ini. Atau jangan-jangan malah jadi salah satu tontonan favorit?

Konsepnya memang menarik dan menantang pengetahuan umum peserta. Penonton di rumah juga ikut-ikutan tertantang untuk menjawabnya.

Jadi konsepnya setiap peserta diberikan pertanyaan berupa pilihan ganda. Jika benar, ia akan mendapatkan hadiah uang.

Setiap melangkah ke pertanyaan berikutnya, hadiahnya semakin besar. Jika pertanyaan berhasil ia jawab semua, maka pesertanya bisa membawa pulang Rp1 miliar dalam versi Indonesia atau US$1 juta di versi Amerika Serikat.

Meski sederhana, siapa sangka bahwa nilai IP (intellectual property/properti intelektual) kuis Who Wants to be a Millionaire ini mencapai US$1 miliar. Hal ini membuat kuis tersebut jadi salah satu kuis paling fenomenal di zamannya.

Nah, salah satu sosok penting di balik keberhasilan IP Millionaire adalah Adrian Woolfe. Saat itu ia bertindak sebagai Managing Director di Celador International, perusahaan yang ditunjuk menangani dan memperluas waralaba Millionaire ke kancah internasional.

Di bawah kepemimpinan Adrian, Celador yang berdiri sejak 1999 sukses melisensikan hak IP Millionaire ke 107 negara, termasuk Indonesia. Hanya dalam 24 bulan, Adrian berhasil membuat penghasilan Millionaire mencapai US$750 juta.

Spontan saja namanya langsung populer di dunia hiburan. Ia memang dikenal sebagai sosok yang kreatif.

Popularitasnya makin mencuat ketika dirinya berhasil memperluas waralaba Millionaire ke dunia game mobile. Malahan pada 2001, game mobile Who Wants to be a Millionaire menjadi game terbanyak yang dimainkan di dunia dengan 100 juta pengguna. Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat saat itu game mobile belum populer seperti sekarang.

Strategi Apik Adrian Woolfe

Strategi dan implementasi yang diterapkan Adrian dalam meluncurkan Millionaire ke dunia internasional menjadi standar industri yang kemudian ditiru IP acara TV lain seperti Big Brother, Idol, X-Factor, dan Got Talent ketika mereka memperluas waralaba masing-masing ke kancah internasional.

Acara lain yang dibikin Adrian jadi go international adalah acara reality show berjudul You Are What You Eat (diadaptasi ke 19 negara) dan kuis Brainiest (16 negara).

Selain kreatif, Adrian juga terkenal terampil dalam negosiasi dan menjalani kesepakatan lisensi produk dengan berbagai stasiun TV dan produser di seluruh dunia. Intinya, Adrian menjadi kapten kapal yang mengatur arah strategi dan kreatif di Celador, dan bertanggung jawab dalam mengakuisisi acara TV baru.

Sebagai produser, pria yang mengawali kariernya di Celador sejak 1996 ini sudah kenyang piala dan penghargaan. Berbagai acara yang ia produseri juga ditayangkan di jam prime-time di seluruh dunia; prestasi yang bukan main di industri TV yang persaingannya berat.

Dirikan LIT Bersama Claudia Rosencrantz

Pada 2018, Adrian mendirikan Studio 1 bersama rekan bisnisnya, Claudia Rosencrantz. Mereka bertemu 20 tahun lalu, saat sama-sama menggodok konsep Who Wants to be a Millionaire?

Studio 1 adalah perusahaan yang mengembangkan, memproduksi, dan mengembangkan berbagai format acara baru yang ditargetkan untuk tayang di berbagai jaringan OTT.

Salah satunya adalah LIT, sebuah acara berita hiburan yang diluncurkan sejak Juli 2020. Konsepnya tayang secara live, selama sejam per harinya, tapi ditargetkan bisa jadi acara yang tayang live 24 jam terus menerus dan beroperasi di seluruh dunia. Di Indonesia, LIT sudah rekanan dengan Kaskus.

Siap Menyapa Indonesia

Nah, bagi kamu yang tertarik dengan bisnis hiburan dan segalanya mengenai properti intelektual, Adrian Woolfe bakal sharing pengalaman suksesnya mengembangkan Who Wants to be a Millionaire? menjadi IP global yang fenomenal.

Ia bakal hadir sebagai pembicara dalam acara ICON2020 yang digelar pada 14-18 Desember 2020. Adrian akan tampil bersama Mochtar Sarman, CEO Machali Sport International dalam acara bertajuk Opportunity Behind a Valuable IP yang mulai tayang perdana di ICON2020 pada 14 Desember 2020 pukul 14.00 WIB.

ICON2020 adalah sebuah konferensi yang digelar GDP Venture untuk membahas isu terkini di industri digital, marketing, dan bisnis secara umum. Di tahun 2020 ini ICON2020 mengambil tema entertainment now.

Tema ini bertujuan memberikan wawasan bagaimana hiburan dapat memberikan nilai lebih kepada brand sehingga dapat selalu relevan dengan generasi yang lebih muda, sebab generasi muda saat ini selalu mengaplikasikan entertainment dalam kehidupan mereka.

Baca: Deretan Tokoh Populer di ICON2020

Enggak sabar? Yuk, dapatkan tiketnya sekarang.

Khusus untuk pembaca Smart-Money.co, kamu bisa memasukkan kode promo SMART2020 untuk mendapatkan potongan harga hingga 90% di Blibli.com/ICON2020. Penawaran ini berlaku hingga 18 Desember 2020.

Dapatkan tiketnya di sini.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.