Berkah dari Menenun Sutera dan Emas (1)

Berkah dari Menenun Sutera dan Emas (1)
Berkah dari Menenun Sutera dan Emas (1)

Kain tenun merupakan salah satu produk dari ragam budaya yang ada di Indonesia. Di Palembang, songket menjadi kain tenun khas yang menjadi peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Songket ini terbuat dari benang sutera dan benang emas dengan pola simetris yang halus dan rumit. Tak heran bila pembuatan satu songket, butuh 1-3 bulan pengerjaan karena memang butuh kecermatan tinggi.

Hal tersebutlah yang membuat kain songket punya nilai ekonomis sangat tinggi, bisa mencapai ratusan juta rupiah per lembar. Harga akan lebih mahal bila kain juga berusia cukup tua.

Pensiunan kepala pemasaran PT Pupuk Sriwijaya (PUSRI) H. Dungtjik menjadi salah satu orang yang menggantungkan hidup dari songket sekaligus untuk melestarikan warisan budaya asli Palembang tersebut.

Bagi Dungtjik, songket bukan hal baru lagi. Ibu mertuanya, Hj. Imaning Syukur, lebih dulu merintis usaha menjual kain songket dari rumah ke rumah sejak 1970.

Kemudian, usaha tersebut dilanjutkan istrinya, Hj. Romlah Dungtjik dengan membuka ruang pamer di rumahnya, di perumahan PT PUSRI, Sukamaju, Palembang pada 1990 dengan modal awal Rp30 juta hasil jual rumah saat bertugas di Bandung.

Kain songket yang makin beragam, baik dalam warna maupun motif membuat konsumen punya lebih banyak pilihan dan berbelanja pun terasa lebih nyaman. Karena turut melestarikan budaya peninggalan leluhur, pada 1994, usaha Dungtjik mendapat perhatian dan binaan dari PUSRI.

PUSRI memberi bantuan manajerial dan modal usaha Rp30 juta hingga pada akhirnya membuat Dungtjik mampu berdiri sendiri. Bantuan tersebut berlanjut hingga tiga kali. Pemasaran dari mulut ke mulut cukup jitu membuat bisnis Dungtjik berkembang.

Dalam waktu relatif singkat, produk songket bermerek Tujuh Saudara itu makin dikenal. Nama Tujuh Saudara sendiri diambil dari jumlah anak Dungtjik. Tak lama, produk tersebut akhirnya menjangkau tetangga, teman kantor hingga pejabat kabupaten dan Gubernur Sumatera Selatan.

Usaha ini terus berkembang dan memberi rezeki bagi Dungtjik dan keluarga serta para pengrajin yang menjadi mitra Dungtjik. Kini, Dungtjik punya lebih dari 100 pengrajin.

Tak hanya itu, iya juga mengubah tiga rumah menjadi mess untuk menampung 29 pengrajin batik dari Wiradesa, Pekalongan, 35 pengrajin tenun dan tenun ikat (Blongsong) dan 15 pengrajin kain jumputan Palembang.

Rata-rata, mereka adalah kaum muda putus sekolah yang dididik menjadi pengrajin. Untuk diversifikasi usaha, sejak 1991 kakek dari 17 cucu itu mengembangkan batik motif kuno khas Palembang, seperti Lokan, Kembang Bakung dan sebagainya.

Berlanjut ke bagian kedua.