Cara Sukses yang Beda Ala Kok Bisa

Ketut Yoga Yudistira, Co-Founder Startup Kok Bisa
Ketut Yoga Yudistira, Co-Founder Startup Kok Bisa

Ketut Yoga Yudistira sekilas tampak seperti pemuda biasa saja. Ditemui Smart-Money.co di kantornya, ia hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans. Tapi jangan salah ya. Meski tanpa setelan jas, kemeja, celana bahan, dan pantopel, anak muda ini adalah co-founder Kok Bisa, sebuah startup berupa kanal YouTube bertema edukasi yang tengah naik daun.

Jebolan Ilmu Komunikasi FISIP UI ini pun sudah mengantongi banyak penghargaan. Bahkan dia bersama dua rekan pendirinya, yakni Gerald Sebastian dan Alvin Dwi Saputra (Alvin sudah keluar), sering diundang ke berbagai negara untuk berbagi pengalaman. Sebut saja seperti Amerika Serikat, Hong Kong, Inggris, Afrika Selatan, Australia, Thailand, Perancis, Singapura, Korea Selatan, Italia, Swiss, sampai Belanda.

Namun ya sukses mereka memang tak dibangun semalam. Jika dulu sekadar mendapat 15 subscriber saja rasanya sudah menyejukkan hati, kini (saat tulisan ini dibuat) kanal Kok Bisa sudah mendapatkan 1,4 juta subscriber.

Tak cuma itu. Mereka juga sering mendapat tawaran kerja sama untuk membuat konten edukasi dari berbagai kalangan. Mulai dari instansi pemerintah hingga perusahaan swasta ternama, mengantre untuk bisa bermitra dengan Kok Bisa. Terbayang kan berapa penghasilan yang bisa anak-anak muda inspiratif ini dapatkan?

Lihat saja sekarang viewers-nya. Rata-rata tembus ratusan ribu. Namun meski tengah naik daun, bukan berarti mereka mengerem daya kreasinya. Justru bermacam inovasi terus digas.

Dalam seminggu, setidaknya mereka membuat tiga konten baru. Menurut Gerald, pengetahuan itu tak akan pernah habis. Jadi ya selama masih ada pertanyaan "Kok Bisa?", maka akan selalu ada jawaban yang harus disampaikan.

"Ya apapun yang dibuat orang pasti punya humble beginning. Kami juga pernah mengalami masa-masa sulit. Malah sampai setiap dapat notification di email yang memberitahu ada tambahan satu subscriber saja rasanya sudah senang bukan main. Di perjalanan pun kami sempat berpikir apa yang kami lakukan ini percuma atau tidak," ungkap Ketut.

Gerald Sebastian
Gerald Sebastian

Ketut dan Gerald (bersama Alvin) lantas saling menguatkan. Mereka coret kata menyerah. Konten-konten baru terus dirancang. Salah satu upayanya adalah dengan mencoba membuat konten berdasarkan "apa yang menarik" terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan "apa yang penting".

"Jangan pernah lupa kita mulai dari mana. Toh Steve Jobs dan Steve Wojniack saja bikin Apple mulai dari garasi. Microsoft, Youtube, dari garasi. Orang-orang hebat seperti Jack Ma, Bill Gates, semua dari garasi. Artinya jangan pernah malu kalau kita mulai dari nol. Justru berarti kita itu hebat kalau mau berjuang," sambung Ketut yang mengaku pernah menjadi "pembuat kopi" saat magang di salah satu perusahaan media itu.

Ya, apa yang dilakukan Kok Bisa memang terbilang "berani". Pasalnya konten yang mereka buat bertema edukasi.

Seperti kita tahu, dibanding pariwisata, kuliner, games, dan gaya hidup , konten edukasi hanya sedikit yang melirik. Belum lagi, konten edukasi yang ada juga terlihat monoton dan "berat". Di situlah mereka mengaku merasa resah.

"Berangkat dari keresahan itu, kami berpikir kenapa sih tidak ada konten edukasi yang menarik. Padahal kalau ilmu pengetahuan dikemas secara kreatif tentu lebih bisa menarik perhatian banyak orang," lanjut pemuda kelahiran 17 Maret 1994 itu.

Kok Bisa lantas mengunggah video-video edukasi tentang pengetahuan yang pada dasarnya jarang diketahui banyak orang.

Sebut saja seperti Mengapa Satu Menit Itu 60 detik; Mana yang Lebih Banyak, Semut atau Manusia; Apa Isi dalam Lubang Hitam, Kenapa Perjalanan Pulang Terasa Lebih Cepat; Apa Jadinya Indonesia Bila Tidak Pernah Dijajah; Seberapa Tinggi Kita Bisa Mendirikan Bangunan; sampai Kenapa Negara Tidak Mencetak Uang Sebanyak-banyaknya.

Semua itu dibuat berdasarkan hal-hal yang membuat banyak orang penasaran—dan jawabannya dikemas dengan kreatif serta ditampilkan dengan cara yang menyenangkan.

Begitulah. Jutaan subscriber mungkin bukan hal yang langka di YouTube. Tapi kebanyakan konten-konten yang bukan edukasi. Nah, Kok Bisa, yang punya tagline “Jangan pernah berhenti bertanya”, konsisten ingin menjadi media yang tepat untuk mendorong masyarakat Indonesia agar selalu bertanya dan mencari tahu tentang segala sesuatu.

Nah, bagaimana menurut kamu? Yuk simak cuplikan wawancara Smart-Money.co dengan Ketut yang dilakukan di kantornya beberapa waktu lalu.

Cara sukses yang beda ala Kok Bisa