Delvyana: Bukan Keputusan Mudah Lebih Memilih Meneruskan Usaha Keluarga

delvyana
delvyana

Budaya di Indonesia memang tidak sepenuhnya mendukung seseorang untuk mendirikan bisnis sendiri. Hal ini terbukti dari pertanyaan yang kerap dilontarkan orang, yakni sudah kerja di mana. Pertanyaan seperti sudah bisnis apa bukanlah hal ‘lumrah’ di Indonesia.

Sebagai wanita yang terlahir sebagai anak tunggal, Delvyana pun sempat mengalami dilema hebat untuk memutuskan berbisnis dengan meneruskan usaha keluarga atau menjadi seorang profesional di sebuah kantor akuntan publik ternama di Indonesia.

Namun akhirnya, Delvyana mantap meneruskan bisnis sang ayah yang sudah berjalan kurang lebih 18 tahun di Tanah Abang. Layaknya bisnis pada umumnya, bisnis ayah Delvyana juga sempat mengalami pasang dan surut.

Kejadian ini terjadi pada saat krisis moneter terjadi pada 1997. Saat itu, ayah Delvyana harus memindahkan bisnisnya ke ITC Cipulir karena biaya berbisnis di Tanah Abang sedang tidak bersahabat. Selain itu, biaya sewa lapak di ITC Cipulir masih bersahabat.

Lapak di Tanah Abang untuk sementara disewakan. “Jadi, kita mulai lagi dari awal di Cipulir. Bila sebelum krisis moneter kita berjualan sarung, sekarang berubah berjualan pakaian wanita (blouse). Pada 2006, kita kembali berdagang di Tanah Abang, dan bisnis berjalan hingga kini,” ujar Devyana pada Smart-Money.

Kini, bisnis Devyana sudah melebarkan sayap ke pasar internasional seperti Malaysia, Nepal dan Mauritius.

“Sekarang produk kita 60%-65% adalah untuk ekspor dan sisanya untuk pasar lokal. Perubahan barang dagangan ke pakaian wanita karena pasar baju wanita lebih luas dan wanita memang senang membeli baju,” kata wanita lulusan jurusan Akuntansi Binus itu.

Terlepas dari semua kisah itu, berikut nukilan bagaimana Devyana memantapkan hati meneruskan bisnis keluarga.

Bagaimana akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi profesional?

Saya anak tunggal. Bapak sudah berjualan di Tanah Abang sejak 18 tahun lalu. Karena saya anak satu-satunya. Otomatis saya yang akan meneruskan bisnis. Namun, harus saya akui saya pernah dilema membuat keputusan untuk pilihan ini.

Di tingkat akhir kuliah, tepatnya pada akhir 2011, untuk kebutuhan magang, saya pun magang di kantor akuntan publik Deloitte. Begitu masa magang selesai pada Mei 2012, Deloitte menawarkan kesempatan menjadi karyawan.

Saya betul-betul memikirkan itu. Memilih Deloitte atau meneruskan bisnis bapak. Meski sayang sekali saya harus meninggalkan Deloitte, namun akhirnya saya tinggalkan kesempatan itu. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya.

Pertama, tidak ada tenaga kerja yang membantu bapak berdagang di Tanah Abang. Kedua, kerja kantoran sangat menyita waktu, karena ada lembur dan lain sebagainya. Untuk gaji pegawai kantoran sebenarnya biasa saja, namun yang besar adalah jika ada uang dari lembur.

Dari situ, saya putuskan tidak bekerja di Deloitte dan meneruskan berdagang di toko yang dirintis bapak saya, Vyana Jaya Fashion di PGMTA.

Adakah kesulitan ketika awal membantu bapak berdagang?

Kesulitan dagang tidak ada, karena sejak kecil bapak sudah sering mengajak saya ke toko. Jadi, sudah terbiasa. Saya juga belajar banyak dengan melihat orang tua saya berdagang.

Sebagai bagian generasi milenial, bagaimana menghadapi perbedaan cara kerja dengan bapak?

Memang ada perbedaan cara kerja saya dengan bapak. Misalnya untuk urusan stok barang. Saya tidak mau stok terlalu banyak. Tapi, bapak inginnya stok baju ada banyak. Atau ketika memilih motif untuk blouse dagangan.

Orang tua saya kadang memiliki selera yang berbeda dengan saya. Namun, namanya selera memang tiap orang berbeda-beda. Perbedaan lainnya, saya sangat memanfaatkan internet dan media sosial. Namun, untuk yang ini, bapak mulai mengikuti saya.

Sekarang bapak juga mulai menggunakan internet dan media sosial untuk dagang. Selain itu, bapak juga mulai menggunakan Google Translate untuk melayani konsumen asing. Bahasa Inggris dia sekarang lebih bagus.

Terkait Ramadan, bagaimana kondisi dan persiapan yang sudah dilakukan?

Biasanya kita punya stok barang dari 3 bulan sebelum puasa. Peningkatan penjualan biasanya terjadi 2-3 minggu sebelum puasa. Namun, di tahun ini, penjualannya memang menurun. Penurunan ini sudah terjadi sejak 2015.

Tahun ini bahkan agak jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jadi ada penurunan permintaan. Kalau untuk kebutuhan ekspor, lebih stabil, bila terjadi naik turun sekalipun, tidak signifikan.

Paling, kendala yang muncul adalah terkait ekspedisi. Jadi memang terpaksa pakai yang lebih mahal.

Harapan untuk ke depannya?

Saya ingin keturunan-keturunan saya nantinya juga bisa menjadi pengusaha. Karena memang lebih menguntungkan menjadi pengusaha. Memang tidak bisa prediksi kapan bisnis akan ramai atau sepi, tapi punya kemerdekaan waktu dan tidak terikat peraturan kantor.