Di Balik Monetisasi Sajak Sapardi

Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono

Penyair legendaris Indonesia Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7) kemarin. Sang sastrawan mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Tentu saja banyak yang kehilangan sosok dirinya. Namun Sapardi pergi dengan meninggalkan begitu banyak karya yang patut kita jaga dan maknai bersama.

Sapardi Djoko Damono ini sastrawan yang kaya dalam segala hal. Ia sukses dalam berkarier.

Mungkin kamu mengenalnya sebagai sosok penyair. Tapi di samping itu, ia juga terkenal sebagai seorang dosen, pakar sastra, kritikus sastra, dan juga pengamat sastra. Sapardi pun kerap menjadi pembicara dalam banyak acara, baik on air maupun off air. Malahan hingga usia 70 tahunan, lelaki kelahiran 1940 ini tetap eksis menulis. Tak heran kalau banyak yang ingin seperti dirinya.

Dalam sebuah wawancara, Sapardi pernah bilang kalau semua orang itu bisa jadi penulis. Setiap orang bisa menciptakan sesuatu dengan apapun yang ia suka. Jadi, semua orang itu ‘creator’ yang berguna untuk diri sendiri atau berguna bagi banyak orang.

“Semakin banyak saudara menulis, semakin bisa. Semakin banyak saudara membaca, semakin gampang saudara untuk menulis,” paparnya.

Selain menulis sastra, ia juga suka puisi. Kualitas sajak dan puisinya tak perlu ditanya. Tak jarang Sapardi diundang menghadiri berbagai pertemuan internasional untuk menerima berbagai macam penghargaan.

Monetisasi

Seribu sayang, banyak pihak yang justru memonetisasi sajak dan puisinya tanpa izin. Walaupun belakangan pihak tertentu kemudian meminta maaf, Sapardi dengan segala keteguhannya mengikhlaskannya.

Padahal karya-karya Sapardi digunakan untuk berbagai kepentingan yang menghasilkan uang, antara lain dibuat lagu untuk direkam dan dijual. Fenomena monetisasi ini bahkan diketahui Sapardi. Lalu apa katanya?

“Saya kadang pura-pura marah sewaktu ada yang mengontak saya untuk meminta maaf dan sekaligus minta izin sudah menggunakan puisi atau sajak saya. Saya tanyakan mengapa tidak minta izin lebih dulu. Tapi sebenarnya saya sama sekali tidak marah,” ujarnya, dikutip dari Media Indonesia.

Cerita menarik diungkap Sapardi ketika karyanya digunakan pianis Ananda Sukarlan untuk membuat lagu. Sapardi sendiri baru tahu setelah Ananda mengontaknya.

Namun Sapardi mengaku ikhlas meski dirinya tidak menerima royalti ataupun kompensasi dalam bentuk apapun.

“Puisi itu, begitu saya tulis, maka sudah jadi milik Anda. Jadi, saya ikhlas saja kalau diambil dan digunakan oleh orang lain,” tuturnya kembali.

Ada lagi cerita suatu hari ia pernah menemukan sebuah lagu yang liriknya diambil dari puisi-puisinya. Lagu tersebut kemudian direkam dalam bentuk CD dan kaset.

Menariknya lagi, Sapardi menonton pementasan lagu tersebut. Lalu ketika ia keluar acara dan meminta satu CD dari lagu yang diambil dari puisinya, Sapardi justru diminta membelinya dengan harga Rp200 ribu. Ia pun tetap dengan suka hati membelinya.

“Waktu dipentaskan, saya merasa kok itu bagus, dan saya terharu. Banyak yang ambil sajak-sajak saya untuk dibuat lagu. Ada lagu pop, keroncong, dan lainnya. Saya sering terkaget-kaget saja, lho, itu lagu kok dari sajak saya,” katanya.

Sekali lagi, Sapardi mengingatkan bahwa setiap karya yang sudah ia buat adalah punya banyak orang. “Buku saya bukan kitab suci. Tapi banyak undangan pernikahan yang menggunakan kutipan dari sajak-sajak yang saya buat,” imbuhnya lagi.

“Pekerjaan saya menulis, Anda membaca, terserah Anda memaknai bacaan Anda. Karena kesusastraan itu hidup justru karena maknanya banyak, multiinterpretasi,” katanya.

Enggak disangka ya, di balik monetisasi sajak Sapardi ternyata ada keikhlasan yang begitu tulus.

Menulislah Sebanyak yang Kamu Bisa

Ingin menjadi sosok Sapardi? Seperti disebutkan tadi, perbanyak bacaanmu sehingga makin mudah untuk menulis. Termasuk dalam hal menulis puisi.

"Kalau mau menulis puisi, bacalah puisi sebanyak-banyaknya," kata pria kelahiran Solo itu.

Namun bukan berarti menulis tanpa henti ya. “Saya juga pernah berhenti menulis cukup lama karena waktu itu tulisan saya dibilang tidak masuk akal,” katanya.

Maka dari itu, menurutnya, jika mengalami kebuntuan dan rasa bosan di tengah-tengah aktivitas menulis, sebaiknya berhenti dahulu. Seseorang tidak harus menulis terus-menerus.

Kini, Sapardi pergi meninggalkan banyak karya. Beberapa bahkan diterbitkan menjadi buku, di antaranya Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari, Suddenly the Night, Before Dawn, Babad Batu, Melipat Jarak, Ayat-Ayat Api. Ada lagi Black Magic Rain, Pingkan Melipat Jarak, Bilang Begini Maksudnya Begitu, Suti, Namaku Sita, Sutradara itu Menghapus Dialogku, Trilogi Oekram, Mantra Orang Jawa, Membunuh Orang Gila, Pengarang telah Mati, Perihal Gendis, hingga Bulan Bugil Bulat.

Sugeng Tindak, Pak Sapardi.