Dipalak Anak Jalanan, Bule Belanda Ini Bangun Sekolah untuk Mereka

Chaim Fetter bersama anak-anak jalanan yang ia sekolahkan (Sumber: Yayasan Peduli Anak.
Chaim Fetter bersama anak-anak jalanan yang ia sekolahkan (Sumber: Yayasan Peduli Anak.

Jika punya rencana ke Nusa Tenggara Barat, mampirlah ke Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Di situ berdiri sebuah sekolah dan asrama seluas 1,5 hektare yang dibangun seorang bule asal Belanda, Chaim Fetter.

Yang membuatnya istimewa, Yayasan Peduli Anak yang ia dirikan merupakan hasil dari penjualan perusahaannya di Belanda. Menariknya lagi, ide mendirikan sekolah ini justru tercetus saat dirinya sedang berlibur ke Lombok dan dipalak anak-anak jalanan setempat.

Peristiwa itu terjadi pada 2004 silam. Fetter merasa sedih Lombok yang punya pemandangan alam sangat indah, jadi tempat tinggal anak-anak jalanan yang tidak sekolah. Banyak di antara mereka terpaksa meminta-minta karena ditekan jaringan mafia di sana.

Namun Fetter sedari awal tak pernah mau memberikan uang. Sebab ia tahu betul sebagian besar uang tersebut hanya dipakai orang-orang tak bertanggung jawab yang berada di belakangnya.

Makanya, alih-alih memberi uang , Ia malah bertanya, "Kalian mau sekolah?". Pertanyaan tersebut dijawab “Ya” oleh anak-anak jalanan tersebut.

Spontan Fetter lantas membawa anak-anak tersebut ke sekolah terdekat di Lombok. Sayang, pihak sekolah menolak. Salah seorang guru memberi tahu Fetter, kalau ingin memasukkan anak-anak ke sekolah, harus ada biayanya.

Fetter kaget. Baginya, kondisi ini sangat ironis karena di negara asalnya, setiap anak bisa sekolah gratis sampai perguruan tinggi. Bahkan orangtua yang menelantarkan anaknya dianggap melanggar dihukum.

Fetter tak menyerah. Ia memutuskan membiayai seluruh kebutuhan anak-anak tersebut mulai dari biaya sekolah, buku, hingga kebutuhan sehari-hari. Pria kelahiran 1981 ini pun pulang ke Belanda.

Dari rumahnya, Fetter intens bertanya perkembangan anak-anak yang ia biayai pada salah seorang guru di Lombok. Semuanya antusias belajar. Fetter pun puas.

Dari situlah, setelah melewati proses pemikiran panjang, ia memutuskan menjual e-commerce miliknya untuk membeli tanah di Desa Langko. Ia pun bertekad untuk mendirikan sekolah untuk mereka.

Sumber: Yayasan Peduli Anak
Sumber: Yayasan Peduli Anak

Pernah Susah

Meski bertitel bos perusahaan, Fetter punya masa kecil yang suram. Di usia 6 tahun, orangtuanya bercerai. Ia tinggal bersama ibunya.

"Ibu saya miskin. Ia tak mampu membelikan saya pakaian," katanya. Pemerintah sampai memberikan mereka bantuan untuk kebutuhan hidup,” ujarnya seperti dilansir dari Lokadata.id.

Di usia 6 tahun pula, Fetter sudah mulai mencari uang. Ia membeli barang bekas di pasar lokal dan menjualnya lagi dengan harga yang lebih mahal.

Di usia 13, ia pun membangun situs sendiri untuk mulai usaha. Empat tahun berjalan, e-commerce yang menjual barang-barang bekas sukses.

Namun siapa sangka, jalan hidupnya kini ada di Indonesia. Tidak hanya sekolah, Fetter pun mendirikan Yayasan berupa lembaga swadaya masyarakat terpadu. Ia mengajak semua insan untuk bahu-membahu membantu para anak jalanan mendapatkan apa yang diinginkan.

Sudahkah kamu berbuat baik hari ini? Yuk sisihkan penghasilanmu untuk mereka yang membutuhkan.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.