Fery Haryanto: Laris Jualan Baju Rancangan Desainer di Tanah Abang

fery haryanto
fery haryanto

Nama Pasar Tanah Abang memang sudah sangat tersohor. Pasar grosir terbesar di Asia Tenggara itu adalah tempat banyak pedagang berdagang busana, mulai dari baju hingga produk tekstil lainnya. Saking ketatnya persaingan, tanpa strategi yang tepat, bisnis bisa tergusur.

Fery mulai masuk dan berdagang di Tanah Abang sejak ia lulus SMA. Ia terlahir dari keluarga yang memang sudah lama berdagang. Ayah Fery sudah berdagang kemeja pria sejak 1989. Di sela jam pulang sekolah atau liburan, Fery selalu diajak ayahnya ke toko.

"Sejak SD, tiap libur sekolah, ayah selalu mengajak saya ke Tanah Abang untuk melihat bisnisnya. SD masih sebatas main. SMP sudah mulai ikut melayani pembeli, SMA pun begitu," ujar Fery yang kini juga berdagang di Tanah Abang dengan nama toko Monggi.

Nama Monggi berasal dari nama kampung halaman ayahnya di Padang Pariaman. Nama toko keluarga inilah yang kemudian dipakai semua anggota keluarganya dalam berdagang.

Untuk mengasah insting dagang, ayah Fery memberinya modal untuk usaha. "Kelas 2 SMA saya sudah mulai main bisnis online (daring). Saya dapat modal dari ayah dan saya belikan produk wanita sebagai barang dagangan," katanya.

Alasan Fery memilih produk wanita adalah, wanita memang senang belanja dan potensi pasarnya besar.

"Tiap jam istirahat sekolah, saya cek toko dan lihat apakah ada pembeli. Bisnis ini berjalan hingga saya kelas 3 dengan omzet bisa untuk beli mobil," katanya yang mengaku dibantu saudaranya untuk membuat situs toko daringnya.

Selama 1,5 tahun berbisnis daring, Fery mengaku sudah memiliki pelanggan dari luar negeri seperti Filipina dan Sri Langka. Fery mengaku, toko daring miliknya bisa terkenal berkat iklan baris gratis yang ia gunakan.

Setelah itu, ia pun menggunakan iklan berbayar dan memperhatikan SEO. Biayanya memang besar, kata Fery, namun makin hari biaya itu terasa makin kecil karena omzet penjualan pun juga terus meningkat.

"Namun, ayah kemudian meminta saya berhenti dagang karena lulus sekolah lebih penting," kata Fery. Meski berat, keputusan itu akhirnya ia turuti dengan pengorbanan yang besar pula.

Setelah berhenti berjualan daring, para pelanggan Fery pergi dan ia pun memutuskan untuk sepenuhnya berhenti berjualan daring, saat itu.

"Saya lulus SMA tahun 2007. Saya berontak dan tidak mau kuliah. Saya minta kebebasan supaya bisa berdagang di Tanah Abang. Saya tidak mau lagi berjualan daring karena sulit dan lama membangunnya," kenangnya.

Pada 2007 itu juga, saya masuk ke Tanah Abang dan belajar dagang langsung dari ayah. Dari pengalaman dagang kala SMA, Fery tahu fashion untuk wanita lebih laris dibanding kemeja pria. Akhirnya, Fery memutuskan untuk bergabung dan membantu kakaknya berdagang celana panjang wanita.

"Saya langsung ikut abang, tidak ikut ayah yang berjualan kemeja pria. Waktu bergabung, persentase keuntungan yang saya dapat masih kecil. Namun, saya bisa membuktikan diri bahwa saya bisa menjual celana panjang wanita dagangannya. Saya berhasil dan abang pun menambah produk atasan wanita dan mempercayakannya pada saya," katanya.

Kerja sama ini berlangsung hingga 2014. Dari membantu sang kakak, anak ketiga dari empat bersaudara ini berhasil membiayai dirinya untuk pergi haji, ia juga mampu membeli rumah dan memiliki modal yang cukup untuk membangun usaha sendiri.

Di tahun yang sama, Fery akhirnya memutuskan untuk mandiri dan mendirikan toko Monggi miliknya sendiri dan menikah.

"2014 saya buka toko sendiri. Saya sewa tempat dan jualan produk bawahan wanita. Produk ini mudah dijual karena modelnya tidak terlalu banyak dan tidak serumit produk atasan," kata dia.

Sebagai pemain baru, Fery mengaku harus cerdik dalam berdagang bila ingin berdagang. Berikut nukilan wawancara Smart-Money dengan Fery mengenai caranya menembus pasar Tanah Abang.

Bagaimana strategi awal masuk pasar Tanah Abang?

Di toko baru saya, saya terus mengikuti para pemain besar. Saya lihat cara mereka bekerja seperti apa. Saya cari tahu kelemahannya apa. Akhirnya, saya berhasil menemukan salah satu kelemahan para pemain besar itu.

Kelemahan mereka adalah bahan yang tidak bervariasi. Jadi, saya buat agar bahan dagangan di toko saya bervariasi. Setelah bahan, masalah selanjutnya adalah soal model. Jadi, saya perbanyak model dagangan saya.

Jadi, pembeli bisa punya banyak pilihan bahan dan model yang menarik dan sesuai selera mereka. Agar model bagus dan menarik, saya cari inspirasi dari majalah asing dan ketika pergi ke mal. Selain itu, saya juga berani ambil desainer.

Awalnya, ayah saya marah kenapa harus menyewa desainer untuk merancang baju. Namun, karena posisi saya kuat ketika bangun toko sendiri, saya memakai uang sendiri untuk membangun toko, walaupun diprotes, saya tetap jalani apa yang saya mau karena ini uang saya sendiri.

Bagaimana hasil penjualan setelah menggunakan desainer?

Dengan strategi ini, penjualan toko semakin mantap. Dalam sehari, saya bisa mengeluarkan 2-3 model. Jadi, saya tinggal pikirkan bagaimana untuk ekspansi toko atau menjual produk dengan model yang berbeda.

Saya akhirnya kembali jualan daring, namun sebatas menggunakan Whatsapp. Jadi, saya bisa dengan mudah menawarkan produk dengan model baru pada konsumen yang sudah ada. Namun, saya juga berencana kembali membangun situs.

Cara kerja desainer?

Jadi, desainer akan membuat desain dan sudah memotong bahan sesuai desain mereka. Setelah itu, baru kita kirim ke konveksi untuk masuk tahap produksi. Potongan bahan ini kita potong sendiri supaya tidak dicurangi konveksi.

Ini lebih aman dan menghindari kecurangan dari konveksi. Memang konsekuensinya, konveksi minta harga lebih mahal. Tapi tidak apa, lebih baik bayar lebih mahal daripada nanti saya dicurangi konveksi dengan potongan bahan yang tidak sesuai. Jadi, konveksi tinggal jahit saja.

Konsumen terbesar saat ini?

Pasar utama kita masih lokal mencapai 90% lebih. Sisanya baru ekspor Filipina atau Malaysia.

Ada rencana masuk ke marketplace/e-commerce?

Saya tidak mau masuk e-commerce. Karena, tidak bisa leluasa berjualan dan persaingan terlalu ketat. Jadi, lebih baik tidak main ke e-commerce.

Rencana ke depan?

Saya akan mulai memikirkan strategi untuk berjualan secara daring. Media sosial sudah ada, namun belum menjadi fokus saat ini. Saya sedang mencari cara agar media sosial ini bisa memiliki follower yang banyak dengan cara organik.

Untuk saat ini, Instagram saya pakai sebagai pendukung situs utama kita. Jadi, sampai sekarang, memang masih dalam tahap perencanaan. Selain itu, saya juga sudah membeli tanah 2.400 meter persegi di Bogor.

Awalnya, tanah ini akan saya pakai untuk masuk di bisnis properti. Namun, karena melihat tren properti sedang kurang bagus, akhirnya saya tahan dulu. Jadi, tanah ini untuk investasi.

MORE FROM MY SITE