Kampus Kehidupan, Mesin Jahit dan Anne Avantie (1)

Kampus Kehidupan, Mesin Jahit dan Anne Avantie (1)
Kampus Kehidupan, Mesin Jahit dan Anne Avantie (1)

Memang, tak ada yang pernah tahu atau bisa memprediksi kesuksesan seseorang. Namun, terkadang, seorang ibu memiliki kemampuan tersebut. Ibu Jusuf Kalla (JK), Athirah, pernah bilang bahwa JK akan menjadi orang besar kelak.

Terbukti, saat ini JK menjadi wakil presiden Republik Indonesia. Hal serupa juga dialami Anne Avantie. Anne yang berasal dari keluarga sangat sederhana itu punya kisah serupa. Ibunda Anne, pernah berkata bahwa Anne akan menjadi orang sukses kelak.

Dalam kisah Anne, sang ibu menjadi sutradara kesuksesan Anne. "Ibu saya adalah sutradara kesuksesan saya. Ia adalah orang yang selalu memberi saya semangat ketika saya sedang jatuh," ungkap Anne.

Saat ini Anne memang dikenal sebagai sosok yang sukses, pekerja keras dan tak pernah menyerah. Namun, jauh sebelum berada di titik tersebut, Anne sudah kenyang mengecap rasanya gagal, hampir kalah bertarung dan menyerah karena kerasnya kondisi yang harus ia hadapi.

Wanita asal Solo ini mengalami masa kecil, masa remaja bahkan pernikahan yang memang membuatnya terpuruk. "Bayangkan, saya menikah hanya naik taksi dan tak ada kue tart sama sekali," kenang Anne.

Tak hanya itu masalah yang pernah dihadapi Anne, cobaan juga datang ketika sang ibu mengidap penyakit kanker, kemudian tempat kerja di garasi rumah kontrakannya dibakar massa pada kerusuhan tahun 1998.

"Saya merasa selesai disini. Namun ibu saya terus memberi motivasi untuk meneruskan perjuangan. Titik ini menjadi awal dari keinginan saya membahagiakan ibu. Saya terus bertahan dan melakukan yang terbaik. Saya yakin masalah adalah anak tangga yang akan mengantar saya sukses kelak," katanya.

Dari titik tersebut, Anne mulai fokus menjahit sesuai keyakinan ibunya yang yakin bahwa anaknya akan sukses dengan menjahit. Bermodal satu mesin jahit, Anne pun memulai usahanya. "Ini kesempatan emas bagi saya, bukan perak atau perunggu. Semua kesempatan adalah emas," katanya.

Anne menggunakan semangat yang ia dapat dari ibunya itu untuk menciptakan sesuatu dan berkarya. Karena tak mendapat pendidikan resmi menjahit, untuk mengetahui pola pakaian, Anne biasanya membongkar sebuah pakaian untuk mempelajari polanya kemudian mereplikasinya.

"Seiring waktu, saya juga melakukan inovasi sendiri, misalnya membuat corak dengan memanfaatkan minyak tanah dan pewarna atau menabrakkan warna-warna yang ada. Ini menjadi ciri saya yang tak bisa ditiru orang lain karena saya mendapatkannya dari pelajaran kehidupan," katanya.

Berlanjut ke bagian kedua.