Kisah Duo Tukang Cuci Piring yang Sukses Buka Restoran Burger

Byurger, favoritnya anak-anak muda Jakarta Selatan
Byurger, favoritnya anak-anak muda Jakarta Selatan

"Eh resign bareng yuk, terus kita buka warung!" Kira-kira begitulah ajakan gila Wiro pada Respati untuk membuka usaha Byurger. Kenapa gila, sebab sejatinya mereka memang belum pernah buka bisnis, dan modalnya pun enggak ada.

Lalu bagaimana ceritanya duo anak muda yang pernah menjadi tukang cuci piring ini sukses membuka kedai burger? Bagaimana juga caranya mereka bisa mendapatkan pelanggan bermobil-mobil mewah di Jakarta Selatan? Ini kisahnya.

Seperti disebutkan tadi, Wiro pernah jadi tukang cuci piring di restoran pizza ternama. Uang dari bekerja ia gunakan untuk biaya kuliah.

Respati pun demikian. Bedanya ia kuliah di luar negeri dan mencari tambahan uang dengan jadi tukang cuci piring di Amerika Serikat.

Keduanya lalu melanjutkan hidup dengan bekerja dari satu tempat ke tempat lain. Hingga suatu waktu mereka berpikir, "Gue harus berubah!"

Sadar tak bisa sendirian buka usaha, Wiro mengajak Respati keluar dari pekerjaannya. Meski ragu, Respati sepakat untuk buka kedai burger dan memulai semuanya dari nol.

Langkah awal yang mereka lakukan adalah riset. Keduanya lantas mencoba puluhan burger di seluruh Jakarta. Tujuannya satu, mencari resep yang paling pas untuk bisnis mereka.

Setelah 8 bulan melakukan riset resep, termasuk riset lapangan dan survei biaya, Wiro dan Respati mendapat masalah berikutnya, yakni modal. Keduanya lantas bongkar tabungan dan mengerahkan segalanya untuk mimpi tersebut. Kemudian lahirlah kedai burger pertama di Cipete yang mereka namakan Byurger.

Dua minggu pertama, belum ada hilal kesuksesan. Namun di minggu ketiga, seorang influencer besar datang dan membeli burgernya.

Boom! Byurger mereka dipromosikan secara gratis! Orang-orang banyak yang jadi tahu ada Byurger enak di Cipete yang layak dicoba.

Namun, pandemi datang. Wiro dan Respati putar otak bagaimana menyelamatkan bisnisnya.

Lagi-lagi, Wiro punya ide gila. Ia meminta Respati mengambil langkah marketing yang membutuhkan anggaran besar.

"Wah, lo gila! Cash kita tipis banget!" kata Respati pada Wiro.

Tapi bukan Wiro namanya kalau tidak punya alasan dan keyakinan level dewa. Respati pun percaya dan tebak, mereka justru berhasil membuka kedai kedua dan ketiganya di Tebet dan Bintaro.

Penjualan Byurger pun kembali naik dan ketiga cabangnya memudahkan orang untuk mendapatkannya, baik take away maupun delivery.

Dalam sebuah podcast di YouTube, Wiro mengaku bisa mendapatkan 200-300 pelanggan di hari kerja. Saat akhir pekan, pelanggannya bertambahn hingga 500 burger.

Malahan dari sekian pelanggan, tak sedikit dari mereka yang datang membawa mobil-mobil mewah. Momen itu pun mereka abadikan dan kian menambah elegan kedai Byurger di Jakarta Selatan.

Kepada anak-anak muda, Wiro dan Respati berpesan untuk berani melangkah saat sudah memiliki mimpi. Sama seperti mereka, jika keduanya tidak berani mengambil risiko, mungkin keduanya tidak seperti sekarang.

Nah, bagaimana dengan kamu? Apa mimpi yang ingin kamu wujudkan?

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.