Kisah John McAfee, Raja Antivirus Eksentrik dengan Strategi Pemasaran Ciamik

John McAfee (Welt+)
John McAfee (Welt+)

Kabar duka menyelimuti industri teknologi. John McAfee, pendiri perusahaan antivirus ternama "McAfee", dilaporkan meninggal dunia karena gantung diri di dalam penjara Spanyol pada Rabu (23/6) kemarin.

Peristiwa tragis ini sontak mengejutkan banyak pihak, termasuk pihak keluarga dan pengacara McAfee, Javier Villalba. Sang pengacara bertekad akan membantu keluarga dalam mencari tahu penyebab kematian kliennya.

Sambil menunggu perkembangan kasusnya, seperti apa perjalanan karier John McAfee?

Pendiri Perusahaan Antivirus Terbesar

(Foto: ist)
(Foto: ist)

John McAfee merupakan pendiri perusahaan McAfee. Ia mendirikan perusahaan antivirus tersebut pada 1987. Hanya butuh waktu tiga tahun saja untuk menjadikannya perusahaan antivirus terbesar di dunia.

Kunci sukses perusahaannya adalah berkat strategi pemasaran yang berbeda dari para kompetitor. Di saat perusahaan lain menjual software antivirus seharga USD50-100, McAfee memberikan produknya secara gratis. Kok bisa?

McAfee memilih mendapatkan keuntungan dari dukungan teknis dan peningkatan software yang diberikan kepada pelanggan. Cara ini ternyata efektif sehingga antivirus buatannya dipakai banyak orang. Tak heran jika akhirnya keuntungan mengalir deras ke perusahaannya.

Berhenti di Waktu yang Tidak Tepat

Meski perusahaannya terus meroket, John mencapai titik jenuh di perusahaan. Pada 1994, ia mengambil keputusan mengejutkan dengan memilih mundur sebagai CEO McAfee dan menjual seluruh sahamnya senilai USD 100 juta.

Pada waktu tersebut, angka USD100 juta memang nilai yang sangat besar. Namun, tampaknya John memutuskan berhenti di waktu yang tidak tepat. Perusahaan McAfee diakuisisi Intel dengan nilai USD7,7 miliar.

Padahal jika masih menguasai sebagian saham McAfee, John bisa mendapatkan keuntungan besar dari akuisisi tersebut yang membuat hartanya semakin berlimpah.

Menjalani Gaya Hidup Mewah

(Foto: Getty/Financial Times)
(Foto: Getty/Financial Times)

Setelah meninggalkan McAfee, John langsung membelanjakan uangnya. Ia membeli properti mewah di Hawaii, jet pribadi, peternakan di New Mexico, karya seni, mobil mewah, dan sebuah gedung di Colorado yang ia jadikan tempat tinggal. Tak lupa, untuk membuat portofolionya beragam, John juga membeli obligasi dari Lehman Brothers senilai jutaan dolar.

Sayang, krisis keuangan global pada 2008 membuat seluruh investasinya jadi tak bernilai. Pada Oktober 2008, Lehman Brothers dinyatakan bangkrut, sehingga seluruh obligasi yang ia pegang jadi tak bernilai lagi.

Gedung di Colorado yang ia beli senilai USD25 juta terpaksa dijual USD5,7 juta saja. Begitu pula properti di Hawaii, peternakan di New Mexico, jet pribadi, dan harta lainnya yang terpaksa ia jual dengan harga murah karena mulai kehabisan uang.

Dilansir celebritynetworth, harta John yang sebelumnya bernilai USD100 menyusut drastis hingga tersisa USD4 juta saja.

Tersandung Hukum

John juga sempat beberapa kali tersandung masalah hukum yang membuat dirinya menjadi sorotan publik. Pada 2020, John ditangkap pihak berwenang Spanyol atas permintaan Departemen Kehakiman AS. Menurut BBC, ia diduga menghindari pajak atas penghasilan yang diperoleh pada 2014-2018.

Meski demikian, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah sukses John bersama McAfee. Keberaniannya dalam membuat terobosan dengan menggratiskan McAfee, menuai pujian.

John menunjukkan bagaimana seorang pebisnis harus berani mengambil risiko agar unggul dengan kompetitor. Sebab dengan begitu, kamu bisa mendapatkan peluang untuk memenangi persaingan bisnis yang semakin hari semakin ketat.

Selamat jalan, John.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.