Kisah Priska Ponggawa Membantu Sumba Mendapatkan Air Bersih

Ilustrasi masyarakat Sumba
Ilustrasi masyarakat Sumba

Wilayah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang terkenal dengan keelokan alamnya yang dikelilingi laut dan air terjun. Bahkan, dikutip dari IDNTimes.com, Sumba Timur masuk ke dalam rekomendasi pariwisata yang digemari tak hanya wisatawan lokal tapi juga turis mancanegara.

Namun kondisi alam yang indah tersebut, berbanding terbalik dengan akses air bersih di sana. Warga setempat harus menempuh waktu lama dan tenaga ekstra demi mendapatkan air bersih untuk kelangsungan hidup sehari-hari.

Miris melihat kondisi tersebut, Priska Ponggawa membuat proyek Water House Project (WHP) untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Sumba Timur. Bersama tiga temannya, Priska menggerakkan organisasi nonprofit untuk membuka akses air bersih di seluruh wilayah Tanah Air.

Kontribusi Priska untuk mengembangkan WHP bukan tanpa hambatan. Latar belakang pendidikan dirinya yang bukan jurusan Geogologi atau ilmu bumi, harus menempuh cara tradisional dengan menggali sumber air bersih di dua daerah, yaitu desa Napu dan Pambuatanjara, Sumba Timur.

Selain upaya menggali, Priska juga membuka donasi untuk ketersediaan air bersih. Pada 2016, Priska mengumpulkan donasi sebesar Rp278.300.000,- dan bekerja sama dengan Yayasan Dian Sastrowardoyo serta UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia pada 2017. Hasilnya, di tahun yang sama sumber air tersebut bisa menghidupi sekitar 500 keluarga.

"Yang namanya susah air itu susah banget. Itu bener-bener harus setiap hari ibu-ibu dan anak-anak, bolak balik 3-4 jam untuk ngambil air. Sementara bapak-bapaknya kebanyakan judi. Akhirnya, (2017) kita bekerja sama dengan UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia dan berhasil membuat sumber air di Napu,” papar Priska dilansir dari detik.com.

Di balik itu semua, Priska dan tiga temannya (Thanya Ponggawa, Cindy Angelina, dan Eunice Salim) membutuhkan perjuangan yang besar untuk mencari titik air bersih. Mereka harus menggali air di setiap titik dengan tantangan yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan kondisi alam di Sumba Timur berbeda-beda.

"Kita juga nggak mau, setelah kita bangun sumber air terus rusak, mereka hanya meminta uang saja. Kita ingin memberikan pelajaran kalau air itu harus dihargai dan sumbernya harus dirawat," tutur wanita lulusan University of California jurusan matematika.

Sebagai wanita yang cukup muda dalam berkarier, perjuangan Priska dapat menjadi panutan sekaligus membuktikan bahwa wanita Indonesia dapat berdiri sejajar dengan para pria dari segi karier dan profesi.