Lebih Baik Mana, Banyak Pesaing atau Jadi Pelopor?

Ilustrasi persaingan bisnis
Ilustrasi persaingan bisnis

Bisnis adalah impian banyak anak muda. Cerita soal banyaknya pemimpin perusahaan di usia muda juga bukan hal yang baru.

Justru dari cerita-cerita itulah kemudian melahirkan pebisnis muda baru yang muncul dengan idenya masing-masing. Mereka saling berlomba-lomba jadi yang terbaik dan diterima di masyarakat.

Namun saking banyaknya orang yang mau terjun ke dunia bisnis, semakin banyak pula pesaing di bidang yang sama. Malah hampir dipastikan bahwa bisnis baru yang muncul sudah punya pesaing.

Pertanyaannya sekarang, masalahkah adanya pesaing dalam bisnis? Atau haruskah kita menjadi pelopor ide baru daripada ikut-ikutan membuat bisnis yang sama?

Principal Kejora Ventures, Andreas Surya, punya perspektif menarik mengenai hal ini. Dalam acara BCA Young Community Conference 2019 yang diadakan baru-baru ini, ia mengungkapkan kalau pesaing dalam dunia bisnis justru dibutuhkan.

Sebab jika tidak ada pesaing, "Berarti enggak ada pasarnya," katanya di hadapan peserta BYC Conference 2019 yang hadir di Grand Ballroom Kempinsky, Jakarta, tersebut.

Hanya saja Andreas menekankan kalaupun ada pesaing, pastikan bahwa jumlahnya tidak terlampau banyak. Sebab jika kadung banyak pemain di bidang yang sama, kesempatan pemain baru untuk masuk ke dalamnya relatif susah untuk mengejar. "Tapi bukan berarti tidak ada pesaing," imbuhnya lagi.

Carilah pasar yang memang belum banyak disentuh pebisnis lain. Pastikan juga bahwa pasar tersebut akan besar dan berkembang. Dengan demikian kesempatan untuk kamu unggul dalam kompetisi bisa lebih besar.

Nah, salah satu cara untuk mengukur apakah sebuah pasar akan berkembang atau tidak memang dengan cara melihat kompetitor. Lihat lagi apakah model bisnis kamu terbukti laku di pasar tersebut.

Maka dari itu, untuk menjadi pemenang, sebuah startup harus punya model bisnis yang siap. Siap dalam hal bersaing, serta siap dalam memberikan solusi.

Lantas apa sih solusi yang baik di zaman sekarang? Jawabannya adalah kepraktisan. Semakin praktis bisnismu, semakin besar peluangnya diterima pasar.

Di sinilah penggunaan teknologi jadi jawaban berikutnya. Kepraktisan karena adanya teknologi sudah terbukti jadi hal wajib yang dicari masyarakat. Tak cuma di Indonesia, tapi juga di banyak negara.

Itulah mengapa, kata Andreas, satu hal penting yang dibutuhkan sebuah startup adalah sumber daya manusia di dalamnya, baik itu individu dalam hal ini pendiri, maupun timnya.

Menurut Andreas, sebuah startup harus memiliki individu yang punya DNA seorang founder. Seseorang yang punya kemampuan dan kecerdasan emosional tinggi. Jika sudah punya hal ini, niscaya bisnis tersebut akan jadi pemenangnya.

Wah, adem ya nasihat dari Andreas ini. Bagaimana dengan kamu? Sudahkah punya DNA seorang founder? Terlepas dari banyaknya pesaing ataupun jadi pelopor, yang terutama adalah dream team yang oke punya.