Menyontek Idealisme Sosok Djaduk Ferianto dalam Bekerja dan Berkarya

Konser Kuaetnika pada Februari 2019
Konser Kuaetnika pada Februari 2019

Di dunia seni, khususnya seni musik, nama Djaduk Ferianto tentu bisa diposisikan sebagai salah satu maestronya. Lelaki yang menjadi bagian dari tim kreatif beberapa seni pertunjukan tersebut, tutup usia karena serangan jantung.

Bagi penikmat seni pertunjukan produksi Indonesia Kita, pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok Djaduk Ferianto. Lelaki kelahiran 55 tahun silam ini, bersama sang kakak, Butet Kartaradjasa dan Agus Noor menjadi nakhoda pertunjukan tersebut sebagai tim kreatif di balik layar.

Lepas dari rutinitasnya di kelompok pertunjukan Indonesia Kita, Djaduk adalah sosok pimpinan grup musik Kuaetnika dan Orkes Keroncong Sinten Ramen. Selain terlibat sebagai pengarah musik seni pertunjukan, Djaduk bersama grup musiknya juga mengadakan pentas musik sendiri.

Terakhir, bersama Kuaetnika, Djaduk mengadakan Konser Sesaji Nagari pada Februari silam. Layaknya seorang seniman yang kerap menyuarakan kegelisahannya terhadap situasi yang terjadi di lingkungan sekitarnya, Djaduk pun seringkali menyelipkan pesan dan kekhawatirannya terhadap kondisi negeri dalam setiap karyanya.

Ketika Konser Sesaji Nagari digelar misalnya, kondisi Indonesia tengah panas dengan isu perpecahan jelang pemilihan umum. Dalam konsernya, Djaduk memadukan berbagai alat musik dari beberapa daerah untuk menciptakan harmonisasi melodi.

“Seperti suara alat musik yang beragam, itulah sesungguhnya keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia. Justru keberagaman menjadi kekayaan kita yang harus dijaga dan disyukuri,” ujar Djaduk seperti yang dikutip dari Beritagar.id.

Tidak hanya menyuarakan kegelisahannya terhadap kondisi negeri terkini, dalam setiap pertunjukan, Djaduk kerap mengemas kebudayaan/ kesenian daerah dengan inovasi yang dekat dengan kehidupan generasi muda, dengan mengaransemen ulang lagu-lagu daerah yang dibawakan dengan apik dalam pertunjukannya misalnya. Tak lain, alasannya tentu untuk menarik perhatian generasi muda terhadap kebudayaan daerah.

“Kami harap inovasi yang kami lakukan dapat menyelaraskan semagat keindonesiaan dari ujung barat hingga ujung timur, merekatkan kembali apa yang disebut Indonesia dan mengingat kembali menjadi orang Indonesia yang menghargai keberagaman,” ujar Djaduk.

Hari ini (13/11), Indonesia berduka. Kehilangan salah satu maestro musik yang kerap membawa dan mengobarkan semangat keindonesiaan dalam setiap karyanya. Selamat jalan Djaduk Ferianto.