Merek Kami Sempat Dikira Produk Luar (2)

Merek Kami Sempat Dikira Produk Luar (2)
Merek Kami Sempat Dikira Produk Luar (2)

Saat ini, content marketing sudah banyak dilirik berbagai merek besar sebagai tren strategi pemasaran di dunia digital, apakah Brodo sudah ada rencana ke arah sana?

Sebenarnya kami sudah sadar dengan tren itu dari dulu, tapi belum dieksekusi. Jujur, kami memang mengejar angka besar sebagai bentuk hasil investasi sehingga kami masih mengandalkan pemasaran berbayar (paid marketing).

Misalnya, perhitungan besar investasi di iklan digital dengan return of investment yang bisa diperoleh. Itu semuanya jelas. Sekarang kami sadar sudah harus mulai mengurangi metode pemasaran seperti itu. Karena menurut penelitian kami, pelanggan yang datang dari pemasaran hard sell cenderung bukan pelanggan long last.

Kalau pelanggan yang datang dari pemasaran menggunakan metode content marketing, akhirnya menjadi pelanggan yang membeli Brodo karena memang mereka tahu dan mengerti Brodo bukan cuma karena banner 'diskon' yang kami pasang.

Pelanggan seperti ini yang bisa menjadi loyal customer. Soal ini, (metode pemasaran soft sell) sudah kami bicarakan di rapat manajemen. Tapi, sepertinya memang tetap harus dipadukan antara penjualan soft sell dan hard sell, tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Kenapa akhirnya membuka toko?

Behavior orang Indonesia masih belum bisa sepenuhnya dijaring melalui online. Dari awal kami jualan, banyak pelanggan yang bertanya 'bisa lihat barangnya di mana?, 'tokonya di mana?', sampai akhirnya kami mengubah kostan kami di Bandung sebagai 'toko' sepatu atau tempat COD (cash on delivery) kami.

Jadi, sebenarnya dari dulu pun tidak murni online, namun memang kami hanya fokus pemasaran dan penjualan secara online. Sampai akhirnya, kami membuka toko pertama di sini (Kemang) dan menjual sepatu di toko.

Dan mengejutkan, toko ini menjadi toko paling ramai dibanding toko lain. Dalam sebulan bisa sampai 2.000 pengunjung. Dari pengunjung yang datang, hampir 60% melakukan pembelian.

Dari jalur online dan offline, mana yang paling banyak mendatangkan demand?

Kalau dibuat rasio, pembelian yang datang lewat jalur online dan offline 60:40. Ya, bahkan hampir 50:50 kalau sekarang. Sekali lagi, behaviour pelanggan berbeda-beda. Behaviour pembeli online beda dengan pembeli offline, tapi keduanya saling menunjang penjualan Brodo.

Pola penjualan kami saat ini, di hari kerja biasanya penjualan lewat online, tinggi. Tapi di akhir pekan atau hari libur, teman-teman e-commerce bisa 'tidak ada kerjaan' karena justru penjualan offline yang tinggi.

Jadi, antara online dan offline, saat ini kami masih berusaha mengombinasikan keduanya dengan optimal. Cuma lucunya, penjualan offline benar-benar tidak bisa ditebak.

Apa plus dan minus dari kedua cara pemasaran tersebut?

Offline sudah pasti biayanya lebih mahal. Kalau mau berbicara soal barang misalnya, gudang kami di Bandung, bila ingin meningkatkan penjualan toko, transfer barang juga harus dinaikkan jumlahnya. Sedangkan online, tinggal menaikkan traffic, gudang dan barang tetap di Bandung.

Selain itu, belum lagi harus memilih tempat, melatiih pegawai, pasang internet, EDC, dan segala macam. Ini tantangan bagi kami.

Bagaimana posisi Brodo dibanding produk lokal sejenis?

Setiap brand punya ciri tersendiri. Demikian, pasar yang terbentuk juga berbeda-beda. Brand kami mewakili kaum urban pria yang peduli penampilan dan bukan hanya karena kebutuhan, juga karena peduli dengan tampilan luar. Dalam hal ini, positioning Brodo di pasar berbeda dengan brand lokal lain.

Dari sekian banyak varian produk yang ada, mana yang menjadi andalan Brodo?

Kalau untuk produk, sepatu pantofel hitam (sambil menunjuk produk) ini masih menjadi juara. Kebetulan sepatu ini juga merupakan produk pertama kami. Sedangkan untuk model, kami tidak punya jadwal tertentu untuk menambah atau justru menghilangkan model.

Model sepatu justru berdasarkan demand dari pelanggan. Semakin banyak produk dicari, maka akan bertahan lama di toko. Tapi, begitu produk tidak diminati, maka dengan sendirinya akan menghilang. Tapi, kami juga terbuka dengan tren yang sedang berkembang.

Misalnya, sekarang Brodo punya jenis sneakers. Alasannya sederhana, karena kini sneakers sedang menjadi tren. Bahkan, brand besar pun mengeluarkan produk sneakers mereka.

Tips untuk anak muda yang ingin merintis usaha dengan menggunakan internet sebagai media pemasaran?

Pertama, harus memiliki kreativitas dalam hal apapun, termasuk organisasi. Karena kemampuan secanggih apapun yang kamu punya, tidak ada artinya bila kamu tidak kreatif. Kreativitas adalah senjata utama untuk bisa bertahan dalam usaha apapun.

Dengan kreativitas, kamu bisa memproduksi produk apapun yang bagus. Dengan produk bagus, kamu akan menjadi bahan pembicaraan. Cara ini yang akhirnya bisa memasarkan produkmu ke masyarakat. Kedua, kuasai masalah teknis. Jangan sampai eksekusi ide kreatifmu terhambat karena masalah teknis.