Rasa Tertarik Saja Tak Cukup Menjadi Modal untuk Sukses Berbisnis (2)

Audilya, Pendiri Tea et Al
Audilya, Pendiri Tea et Al

Ketika ditanya mengenai hal apa yang membedakan Tea et Al dengan kedai teh lainnya, Audilya mengaku, pengetahuan yang luas mengenai teh menjadi faktor yang membedakan kedainya dengan kedai lainnya.

Audilya mencontohkan, penguasaan pengetahuan mengenai teh seperti teh hijau, teh putih, teh oolong, teh hitam, dan teh murni yang memiliki sensasi bau, rasa dan khasiat tertentu menjadi daya saing Tea et Al.

“Teh hijau misalnya, bila dikonsumsi teratur dapat melancarkan pencernaan. Kemudian, saya juga melihat bahwa teh dapat memiliki berbagai varian ketika dicampur bahan lain seperti mangga, jeruk atau apel agar rasanya segar. Teh juga bisa dicampur dengan bunga, cengkih, kapulaga, kayu manis dan sebagainya," paparnya.

Jadi, lanjut Audilya, tiap konsumen yang datang tidak hanya akan menikmati teh, juga mendapat pengetahuan baru seperti waktu perendaman, temperatur dan penyajian masing-masing jenis teh akan memengaruhi citarasa teh itu sendiri.

Tim Solid

Sejak merintis bisnis pada empat tahun lalu, Audilya merasa beruntung karena menemukan tim kerja dan karyawan yang juga tertarik dan passion di bidang teh. Kini, seiring perkembangan bisnis, Audilya sudah memiliki 60 karyawan.

“Saya tidak merasa kesulitan membagi ilmu pada tim saya. Saya juga menyadari saat ini mulai banyak orang Indonesia yang menyukai dan ingin belajar lebih serius mengenai teh, termasuk generasi muda," jelasnya.

Audilya membuktikan hal ini dengan semakin banyaknya konsumen baru dan konsumen loyal yang datang dan paham teh.

“Dari antusiasme dan kebutuhan konsumen ini, saya pun akhirnya menambahkan makanan dan camilan dalam menu. Apalagi, banyak konsumen yang menikmati teh sembari mengobrol, menjalin jejaring bisnis atau menyelesaikan pekerjaan sehingga butuh waktu lebih lama,” katanya.

Di Tea et Al, selain bisa menikmati dan mendapat pengetahuan teh, konsumen juga bisa membeli perlengkapan dan aksesori terkait penyajian teh. Jadi, konsumen bisa menikmati racikan teh Tea et Al di rumah. Untuk kebutuhan ini, Tea et Al menyediakan loose tea (daun teh) dan tea bag (teh kantong).

"Kami juga sudah bekerja sama sejumlah restoran di Jakarta. Beberapa korporasi juga sudah menggunakan teh kami sebagai hampers (hantaran) untuk konsumen atau rekan bisnis. Hingga kini, setidaknya sudah ada 50 restoran yang menggunakan teh kami," jelas dia.

Bagi Audilya, model bisnis ini ternyata juga efektif membantu meningkatkan brand awarness dan brand image Tea et Al di mata konsumen. Contohnya, ketika berpartisipasi di peluncuran produk merek ternama seperti Dior atau Prada, merek Tea et Al pun turut diuntungan dan ini merupakan sarana efektif untuk pemasaran, menjalin relasi dan meminta evaluasi dari konsumen.

Selain itu, Audilya juga menggunakan situs dan Instagram sebagai jalur distribusi yang terbukti mampu berkontribusi besar dalam penjualan.

"Semua bisnis pasti akan menjumpai masalah, bila ingin membesarkan produk baru. Kalau sedang berada di posisi ini, tetaplah berpikir positif. Sebab, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," pesan Audilya untuk kamu yang juga ingin mulai merintis bisnis.