Sarah Gilbert, Penemu Vaksin AstraZeneca yang Juga Terlibat di Vaksin Ebola dan MERS

Uang dan popularitas nomor sekian, keselamatan manusia nomor satu.
Uang dan popularitas nomor sekian, keselamatan manusia nomor satu.

Bukan Novak Djokovic, Rafael Nadal, ataupun Roger Federer, tepuk tangan meriah sambil berdiri diberikan penonton turnamen Wimbledon pekan lalu kepada seorang wanita bernama Sarah Gilbert. Rupanya, dialah sosok penemu vaksin AstraZeneca (AZ) yang memang selama ini belum cukup terekspos ke publik.

Tak hanya vaksin untuk COVID-19, Sarah memang mendedikasikan hidupnya untuk keselamatan manusia. Ia juga pernah memimpin uji coba pertama vaksin Ebola, wabah yang sempat memburuk di Afrika pada 2014.

Sebelumnya, ia juga punya andil dalam penangangan wabah MERS di Timur Tengah. Bahkan, ibu tiga anak kembar ini juga terlibat dalam pembuatan vaksin malaria.

Untuk mengenal lebih dekat dengan sosok Sarah Gilbert, berikut fakta-fakta inspiratif darinya:

1. Anak Tukang Sepatu dan Guru

Sarah bukan berasal dari keluarga dokter. Anak pendiam ini dibesarkan seorang ayah yang menggeluti bisnis sepatu. Sementara sang ibu adalah seorang guru Bahasa Inggris.

2. Seorang Profesor di Universitas Oxford

Di antara anggota keluarga lainnya, hanya Sarah yang tertarik di dunia medis. Ia mendapat gelar pertamanya, Bachelor of Science di bidang Biological Sciences dari University of East Anglia. Ia lalu melanjutkan pendidikan di University of Hull untuk gelar doktor di bidang genetika dan biokimia dari ragi Rhodosporidium toruloides, hingga akhirnya menjadi Profesor Vaksinologi di Universitas Oxford.

3. Rela Lepaskan Hak Paten Vaksin

Sosoknya jadi sorotan lantaran dirinya melepaskan hak paten atas vaksin AstraZeneca. Padahal, bisa saja ia meraup keuntungan dari menjual vaksin tersebut.

“Saya tidak ingin mengambil hak paten penuh, agar kita bisa berbagi intelektual. Siapapun bisa membuat vaksin mereka sendiri demi mengatasi pandemi ini," tutur Sarah dikutip dari Reuters.

4. Membuat Vaksin AZ Lebih Murah

Dilansir dari BBC, Sarah menentukan biaya produksi untuk membuat vaksin AZ ini hanya di kisaran USD4. Itu berarti jauh lebih murah dibandingkan Moderna dan Pfizer. Meski murah, kualitasnya justru paling tinggi (92 persen), terutama untuk melawan virus varian Delta dari Inggris.

Saking jarang terekspos ke publik, banyak yang enggak tahu Sarah Gilbert itu yang mana.
Saking jarang terekspos ke publik, banyak yang enggak tahu Sarah Gilbert itu yang mana.

5. Pendiri Perusahaan Vaccitech

Vaccitech adalah perusahaan bioteknologi yang mengembangkan vaksin dan imunoterapi untuk penyakit menular dan kanker, seperti hepatitis B, HPV, dan kanker prostat.

6. Mendapatkan Gelar Kebangsawanan

Sarah mendapatkan gelar kebangsawanan Dame Commander of the Most Excellent Order of the British Empire (DBE) dari Kerajaan Inggris, atas jasanya pada ilmu pengetahuan dan kesehatan masyarakat. Tidak cuma itu, dirinya juga dianugerahi Penghargaan Putri Asturias untuk kategori penelitian ilmiah.

7. Satu Tim dengan Pemuda Berprestasi dari Indonesia

Meski mendapat apresiasi publik, Sarah selalu membagi kebanggaan tersebut kepada sejumlah anggota timnya. Ia selalu memperkenalkan anggota tim risetnya yang berasal dari berbagai latar belakang.

Sarah pun kerap menekankan profil setiap individu timnya, termasuk Indra Rudiansyah, WNI yang sedang menempuh studi doktoral di Inggris dan turut berperan dalam pembuatan vaksin AZ.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.